Budaya Sebagai Daya Tarik Wisata Manado

Budaya Masyarakat Sebagai Daya Tarik Wisata Kota Manado, adalah sebagai berikut :

Nyong & Nona Manado serta Puteri Indonesia Sulawesi Utara dengan Pakaian Khas Manado

Kota Manado adalah kota terbesar di Provinsi Sulawesi Utara yang juga merupakan ibu kota dari Provinsi Sulawesi Utara. Masyarakat Manado dikenal ramah dan terbuka bagi siapa saja yang ditemuinya. Si Tou Timou Tumou Tou yang berarti  “Manusia Hidup Untuk Menghidupkan Manusia Lain” merupakan semboyan Kota Manado yang menjadi falsafah hidup masyarakatnya. Dalam ungkapan bahasa Manado, seringkali semboyan itu dikatakan Baku Beking Pande”.

Masyarakat Manado terdiri dari bermacam-macam suku, etnis, bahasa, dan agama sehingga disebut masyarakat multietnik atau multikultur. Artinya setiap kelompok etnik selalu terdapat mosaik budaya yang masih hidup dan berkembang di lingkungannya.

Masyarakat Kota Manado yang agamis dan memiliki aturan serta berbagai ciri warisan budaya khas dan nilai-nilai tradisional yang masih tetap dipertahankan dan merupakan potensi yang sangat besar bagi pembangunan dan pengembangan pariwisata daerah Kota Manado.

Kampung-kampung tradisional serta tempat hidup dan tinggalnya masyarakat tradisional Kota Manado, juga merupakan daya tarik wisata yang tidak kalah menariknya jika dibandingkan dengan kabupaten dan kota lainnya di Indonesia.

Perkampungan tradisional dengan budaya tradisonal di Kota Manado memperkaya keragaman daya tarik wisata Kota Manado, dimana kondisi ini dapat dilihat pada beberapa bentuk dan jenis seni budaya daerah yang masih terpelihara di kelompok-kelompok etnik tertentu, antara lain :

1. Upacara Adat

  • Mekiwuka, berkembang dilingkungan komunitas orang Minahasa dan Borgo dengan atraksi budaya yang disebut Figura.
  • Maramba atau nae rumah baru, yakni : upacara peresmian rumah/gedung baru yang berkembang dari komunitas orang Minahasa.
  • Makamberu atau pengucapan syukur di kalangan orang Minahasa yang dahulunya  sebagai upacara syukur atas panen padi baru dan dilingkungan orang Manado telah berkembang menjadi pesta pengucapan syukur sebagai bagian dari upacara keagamaan umat Kristiani.
  • Tulude atau upacara syukur memasuki tahun baru yang disimbolkan dengan pemotongan kue Tamo dan dirangkaikan dengan atraksi budaya tari gunde, alabadiri, masamper dan ampawayer dimana budaya ini berkembang dilingkungan orang Sangihe Talaud di Manado.
  • Atraksi Budaya Toa Pe Kong atau Cap Go Meh sebagai bagian dari upacara agama Kong Futsu yang berkembang dikalangan orang Cina Manado.

2. Cerita Rakyat Manado

  • Batu Sumanti di Tikala Ares.
  • Parigi Puteri di Dendengan Dalam.
  • Parigi Tujuh di Singkil.
  • Kaboter di Lawangirung, Mahakeret, dan Bumi Beringin.
  • Batu Kuangang dan Batu Buaya di Malalayang Satu Barat.
  • Batu Rana di Malalayang Dua, dan Lima Batu di Malalayang Satu.

3. Permainan Rakyat

Permainan rakyat Manado, yaitu :

  • Cengek-cengek.
  • Lari leper/kelereng.
  • Lari karung.
  • Tarik tanah (hadangan).
  • Wora falinggir.

4. Ungkapan  Tradisional

  • Pakatuan Pakalawiren, Masawa-Sawangan, Maleo-Leosan, dan Matombo-Tombolan dari komunitas orang Minahasa.
  • Somahe Kaei Kehage dan Sansiote Sampate-Pate dari komunitas orang Sangihe Talaud.
  • Motobian, Mototonoban, Mototompiaan dari komunitas orang Bolaang Mongondow.

5. Kesenian

  • Seni Musik, terdiri dari seni suara (lagu) dan seni alat musik (musik instrumentalia). Seni suara (lagu), yaitu : O Ina Ni Keke,  O Minahasa,  Esa Mokan,  Ampuruk,  dan Opo Wana Natase (etnis Minahasa);   O Hapiku,   Di Utara Minahasa,   Dala Pia Bongko,   dan O Mau Ruata (etnis Satal); Kosilig-Silig, Lipu Im Mogoguyang, dan Logantod (etnis Bolmong). Alat musik (musik instrumentalia), yaitu : Musik kolintang dan musik bambu seng-klarinet (etnis Minahasa); serta musik bambu melulu, musik bia, dan musik oli (etnis Satal).
  • Seni Tari, yaitu : Etnis Minahasa, antara lain tari maengket, mahamba Bantik, cakalele, kabasaran, dan tari kreasi baru seperti tari jajar (pergaulan), tari tumetenden (cerita rakyat tentang tujuh bidadari), tari lenso (percintaan), dan memetik cengkeh. Etnis Satal, antara lain  tari salo, gunde, bengkok, upase, alabadiri, dan tari kreasi baru seperti tari kakalumpang, madunde, empat wayer, dan toumatiti, dan Etnis Bolmong,  antara lain tari kabela, kalibombang, dan tayok.
  • Seni Rupa, terdiri dari seni lukis, seni pahat, seni ukir, dan seni anyam – anyaman  dimana  sangat terkait  erat  dengan kerajinan tangan rakyat.  Seni rupa, yaitu : Etnis Minahasa, antara lain seni   keramik   dari   tanah   liat,  seni   menganyam   dari rotan, bambu, dan daun pandan, seni pahat patung serta ukir-ukiran juga alat-alat rumah tangga dari batu dan porselin. Etnis Satal,  antara  lain  seni  ukir   kayu  hitam,  seni  tenun  serat  manila,  seni sulaman kerawang, dan seni pahat, dan Etnis Bolomong, antara lain seni anyaman tikar, bakul,  dan kabela (tempat sirih), pembuatan pingku atau piring dari pelepah rumbia.

6. Makanan Dan Minunan Khas

Makanan khas Manado yang beraneka ragam, baik makanan utama maupun kue, minuman dan es, adalah sebagai berikut :

  • Makanan utama, yakni ayam goreng rica-rica, ayam isi di buluh, ayam tuturuga, ayam woku belanga, babi garo, babi rica, babi sayur leilem, brenebon, cakalang fufu, ikan bakar dabu-dabu lilang, ikan mas woku, ikan mujair woku, ikan nike, kuah asam, pampis, pangi isi di buluh, posana, perkedel jagung, perkedel nike, rica roa, rica rodo, rintek wuuk (RW), saut isi di bulu, sayur daun pepaya, sayur ganemo, sayur leilem, sayur paku isi di bulu, sayur petsai, sayur tumis buncis, sayur tumis kangkung, telor ikan cakalang woku, tikus bumbu RW, tinorangsak, dan tinutuan (bubur Manado).
  • Kategori kue, yakni ambal, apang, apang coe, bagea katu, balapis, biapong (ba, temo, unti), biji-biji (jenewer), binyolos, bobengka, bobengka kakas, brot goreng, brudel, cucur, gula tare’, halua kacang, halua kanari, kacang goyang, klaper taart, kopi-kopi, koyabu, kue kuk, kue susen, kukis daong, kukis lopi, lalampa, nasi jaha, onde-onde, palabutung, panada, pia ba, pisang kukus, spetbuff, dan waji.
  • Kategori minuman, yakni cap tikus (minuman keras berkadar alkohol), kasegaran (minuman keras berkadar alkohol), dan saguer.
  • Kategori es, yakni es cukur kacang, es palubutung, dan es kacang merah.

7. Kearifan Lokal

Kearifan  lokal yang telah membudaya dikalangan masyarakat Kota Manado, yakni : sebelum bekerja diawali dengan doa; setiap perolehan senantiasa disyukuri sebagai berkat Tuhan; isi alam semesta selalu dijaga, dipelihara dan dilestarikan; peristiwa alam senantiasa menjadi petunjuk hidup.

8. Agama Dan Kepercayaan

Setiap peristiwa kelahiran senantiasa dilakukan saranian atau baptisan bagi umat Kristiani dan potong rambut bagi umat Muslim; Upacara perkawinan dengan prosesi sebagai berikut : pertunangan,  melamar,  mengantar    mas  kawin,  tukar cicin,  perkawinan,  dan balas gereja untuk umat Kristiani dan pinangan, penentuan wakil calon pengantin wanita, perkawinan (memberikan mas kawin) didepan penghulu dan pengucapan taklik (ucapan ikrar oleh pengantin pria) untuk umat Muslim; Kematian dilakukan ibadah tiga malam, mingguan, empat puluh hari dan setahun meninggal. Kepercayaan lama  kepada   dewa-dewa   yang menghuni alam sekitar, seperti  : opo Wailan Wangko  atau opo  Empung  Wangko yang artinya Tuhan Allah, opo nenek moyang atau Dotu sebagai leluhur, opo kerabat, opo penghuni gunung, opo penghuni mata air, opo penghuni hutan, opo penghuni bawah tanah, opo penghuni pantai/laut, dan opo hujan.  Disamping itu ada pula kepercayaan pada mahluk halus atau kekuatan gaib dan sakti, seperti mukur (arwah orang meninggal), pontianak (arwah wanita yang meninggal hamil atau melahirkan), pok-pok (sebangsa drakula penghisap darah), panunggu (seperti genderuwo yang menempati pohon besar, goa, batu besar serta rumah tua dan kosong) dan jin (piaraan atau suruhan dukun). Adapula kepercayaan seperti pertanda yakni bunyi binatang, bersin, kelopak mata bergerak, bibir tergigit, batuk tiga kali, berjalan harus dimulai dengan kaki kanan, dll; larangan yakni jika kucing/ular memotong jalan maka harus berhenti sejak bagi yang sedang melakukan perjalanan, wanita hamil harus memakai tutup kepala jika berjalan dimalam hari dan tidak boleh duduk didepan pintu, potong kuku tidak boleh dimalam hari, tiang raja tidak boleh sejajar dengan pertengahan pintu, dll.

9. Rumah

  • Ada yang disebut dengan daseng yakni terbuat dari bahan bambu/kayu dan kecil sebagai tempat mengaso.
  • Sabuah sebagai tempat penginapan di kebun atau tempat lain.
  • Rumah panggung yakni tempat tinggal yang terbuat dari bahan papan.

10.Pakaian

Potongan atau model pakaian dipakai para leluhur dan diwariskan secara turun-temurun. Pada zaman sekarang ini pakaian adat hanya dipakai pada upacara-upacara resmi atau upacara adat. Namun Kota Manado saat ini telah memiliki pakaian khas sendiri dimana bentuk dan potongannya seperti pakaian khas Filipina. (Oleh : Rafans Manado),-

One response to “Budaya Sebagai Daya Tarik Wisata Manado

  1. terimakasih…sangat membantu infonya

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda Disini :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s