Pariwisata Sebagai Ilmu & Profesi

Pariwisata merupakan salah satu penghasil devisa non migas terbesar di Indonesia. Dalam kegiatannya, pariwisata melibatkan banyak komponen yang saling berkaitan satu dengan yang lainya, seperti : jasa pelayanan pariwisata, sosial, ekonomi, budaya, politik, keamanan, dan lingkungan.

Wisatawan Mancanegara di Pulau Bunaken Kota Manado

Aktivitas pariwisata secara tidak langsung melibatkan kehidupan sosial baik itu masyarakat sebagai pengunjung (visitor) dan wisatawan (tourist) maupun penyedia objek pariwisata dan penerima wisatawan.

Hubungan sosial masyarakat tersebut sangat berpengaruh pada perkembangan kepariwisataan. Semakin erat dan harmonis hubungan antara wisatawan dengan masyarakat penerima di daerah tujuan wisatawan, semakin cepat perkembangan pariwisatanya.

Dengan kegiatan itu masyarakat bisa berinteraksi dan bertransaksi dalam berbagai hal antara satu dengan yang lainnya sehingga terjalin hubungan yang sinergis dan saling menguntungkan antara wisatawan dan penerima wisatawan yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan taraf hidup serta kesejahteraan masyarakat.

Masyarakat penerima wisatawan dapat terlibat secara langsung dan aktif dalam dunia pariwisata, misalnya : sebagai karyawan sementara atau tetap di industri penyedia jasa pelayanan pariwisata seperti biro perjalanan wisata (travel agency), hotel, villa, bungalow, restoran, transportasi, dan lain sebagainya.

Munculnya pariwisata tidak terlepas dari adanya dorongan naluri manusia yang selalu ingin mengetahui dan mencari hal-hal yang baru, bagus, menarik, mengagumkan, dan menantang. Sehingga orang-orang yang ingin mencari hal-hal tersebut di atas biasanya melakukan suatu perjalanan ke luar daerah atau keluar dari kebiasaanya sehari-hari dalam kurun waktu tertentu.

Sering kali perjalanan seperti itu dilakukan pada saat mereka mempunyai waktu luang (leisure) atau sengaja dilakukan untuk menghabiskan waktu luangnya untuk mengunjungi dan menikmati sesuatu yang menarik seperti : keindahan alam, hiburan, budaya, adat istiadat, dan tempat-tempat suci.

Karakter utama atau ciri khas kegiatan pariwisata adalah perjalanan (travel) dari suatu tempat ke tempat lain. Perjalanan tersebut tidak dengan tujuan menetap, tetapi dilakukan untuk tujuan bersenang-senang, mencari hiburan, dan berekreasi.

Perjalanan wisata tersebut akan mengakibatkan dareah tujuan wisata baik masyarakat maupun lingkungan terlibat secara langsung yang biasanya meningkatkan produktifitas dan dan pendapatan masyarakat lokal (host community).

Perkembangan disiplin keilmuan terus berlangsung, baik ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial. Perkembangan ini ditujukan untuk kemajuan dan perkembangan serta keberlanjutan dari ilmu-ilmu tersebut.

Penemuan dan perkembangan ilmu-ilmu baru pada umumnya berkaitan dengan disiplin ilmu yang sudah ada. Sehingga ilmu-ilmu baru tersebut akan menjadi ilmu yang memberikan pengetahuan yang lebih terperinci dan lebih lengkap.

Pada dasarnya ada 3 (tiga) hal pokok yang diperlukan dalam menentukan apakah itu suatu ilmu atau bukan, yaitu :

  1. Apa yang dikaji dalam ilmu tersebut (ontologi).
  2. Bagaimana cara mendapatkan ilmu tersebut (epistimologi).
  3. Apa kegunaan ilmu tersebut (aksiologi).

Ketiga batasan dan ciri keilmuan tersebut dibagi menjadi 3 (tiga) kategori yaitu; batas dan ciri keilmuan yang berlaku bagi seluruh kelompok pengetahuan (universal), batas dan ciri keilmuan yang berlaku bagi suatu cabang ilmu tertentu (generic), dan batas dan cirri keilmuan yang memiliki kekhasan (specific).

Pariwisata adalah “suatu ilmu yang memiliki dan memenuhi karakteristik sebagai suatu ilmu”. Dalam kaitannya dengan pariwisata sebagai ilmu, dapat pula dilihat dari 2 (dua) sudut pandang objek, yaitu : sudut pandang terhadap sesuatu (objek formal) dan substansi material (objek materi).

Kajian ilmu pariwisata dapat dipandang dari objek materinya, yaitu : Pertama wisatawan dan objek wisata. Kedua objek pokok dari pariwisata ini berkaitan dan berhubungan erat satu dengan yang lainnya. Secara lengkap dapat digambarkan bahwa ilmu pariwisata terdiri dari 4 (empat) objek, yaitu : wisatawan, objek wisata, pelayanan wisata, dan interaksi antara wisatawan dengan lingkungan objek wisata. Interaksi antara wisatawan, objek wisata, dan pelayanan merupakan objek formal dari ilmu pariwisata.

Interaksi antara wisatawan dangan objek wisata yang merupakan objek formal dari ilmu pariwisata dapat dikaji lebih lanjut dengan lingkup kajian motif dan prilaku, seperti :

  • mengapa wisatawan mengunjungi objek wisata tersebut ?
  • apa yang memotivasi wisatawan untuk mengunjungi objek wisata tersebut ?
  • apa yang bisa dilakukan di objek wisata tersebut ?

Ini menandakan bahwa ilmu pariwisata harus meminjam pengetahuan ilmiah lain, seperti ilmu psikologi atau ilmu-ilmu lain yang terkait dengan pembahasan tentang prilaku wisatawan tersebut di atas. Sedangkan objek wisata yang merupakan objek materi dari ilmu pariwista ternyata juga melibatkan disiplin ilmu lainnya, seperti : ekonomi, manajemen, pemasaran, geografi, konstruksi, dan lain-lain.

Uraian singkat di atas menguatkan bahwa pariwisata adalah ilmu. Ilmu Pariwisata merupakan salah satu cabang dari ilmu-ilmu sosial yang bersifat deskriftif (descriptive), teoritis (theoretical), dan praktis (practical) yang mempelajari tentang gejala dan kaitan secara menyeluruh tentang motivasi berwisata, perjalanan wisatawan, dan interaksi-interaksinya yang berdampak pada kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat.

Pengakuan pariwisata sebagai ilmu memerlukan rentan waktu yang cukup panjang dan harus memenuhi persyaratan dan karakteristik dari suatu ilmu serta isi keilmuannya harus bisa diwujudkan secara nyata dalam karya-karya keilmuan.

Proses pengakuan pariwisata sebagai ilmu masih menemui hambatan-hambatan yang disebabkan karena beberapa hal, seperti : barunya penelitian-penelitian dalam bidang pariwisata, sulitnya pengklasifikasian pariwisata secara teori dan metodologi ilmiah, dan sulitnya meletakan pariwisata berdasarkan hubungan antara operator dan pengambil keputusan.

Secara filsafat, pendidikan pariwisata dapat ditinjau dari 2 (dua) pendekatan, yaitu : pendekatan yang bertitik tolak pada teoretis sosio-ekonomi pariwisata dan pelatihan pengusaha pariwisata.

Pengembagan dan penelitian kepariwisataan secara teoritis umumnya dilakukan oleh para ilmuwan di perguruan tinggi tertentu untuk menemukan dan menghasilkan teori-teori baru tentang pariwisata yang sesuai dengan perkembangannya sehingga dapat menghasilkan sumberdaya manusia yang memiliki kemampuan dan keterampilan yang berkualitas dan menemukan pemikiran-pemikiran baru tentang tata cara perencanaan, pengembangan, dan pelestarian serta pengevaluasian suatu daerah tujuan wisata.

Sedangkan pengembangan pendidikan pelatihan pariwisata umumnya dilakukan di pusat pelatihan pariwisata dan perguruan tinggi yang memberikan pelatihan profesional dalam bidang pariwisata seperti yang diberikan pada jenjang pendidikan Dipolma I, II, dan III serta sekolah-sekolah menengah kejuruan pariwisata yang diharapkan mampu mempersiapkan dan mencetak sumberdaya manusia yang berkompetensi (memiliki pengetahuan keahlian dan prilaku) yang mempunyai daya saing dan kualifikasi bertaraf nasional dan internasional.

Pada umumnya pendidikan pariwisata diminati dan dicari oleh orang-orang yang ingin bekerja dalam bidang pariwisata sehingga mereka mempunyai bekal teori dan pengetahuan tentang pariwisata yang bisa diterapkan pada saat mereka terjun langsung dalam dunia kerja dan orang-orang yang telah lama bergerak dalam bidang pariwisata (praktisi) serta penentu kebijakan yang berada dan bekerja di kantor pemerintahan untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang baru tentang pariwisata yang nantinya akan dipergunakan dalam perencanaan, pengembangan, dan pelestarian pariwisata.

Sistem dan kurikulum pengajaran dalam bidang pariwisata harus disesuaikan dengan kebutuhan pembelajarnya agar bisa bermanfaat dan diterapkan langsung dalam bidang dan profesinya masing-masing.

Profesi merupakan suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan dan latihan khusus dalam suatu bidang ilmu. Sehingga orang yang mempunyai suatu profesi tertentu akan sangat profesional dalam bidangnya dan mengerti secara menyeluruh dan matang tentang perkerjaannya (job description) dan ruang lingkup kerjanya.

Dengan adanya interaksi antara wisatawan dengan masyarakat penerima wisatawan, maka umumnya daerah-daerah tujuan wisata akan mempersiapkan tenaga kerja (manpower) atau profesi-profesi yang mempunyai kompetensi dan profesional dalam bidang yang merupakan elemen penggerak dan pendukung pariwisata, seperti dalam bidang : pelayanan jasa pariwisata, ekonomi, sosial, budaya, politik, dan keamanan agar dapat memenuhi kebutuhan wisatawan dan memberikan kepuasan yang penuh kepada wisatawan.

Profesi mempunyai 2 (dua) aspek, yaitu : profesionalisme sebagai keahlian teknis (technical skill) dan profesionalisme sebagai etika profesi (professional ethics).

Keahlian teknis merupakan hal yang sangat penting dalam suatu profesi karena setiap profesi akan mempunyai ruang lingkup kerja dan teknis kerja yang berbeda-beda. Etika profesi juga merupakan hal yang penting dalam suatu profesi karena berkaitan dengan norma-norma masyarakat sosial dan merupakan bagian dari etika umum (general ethics). Kedua aspek ini hendaklah berjalan dengan seimbang sehingga dapat menghasilkan profesi-profesi yang professional. (Editor : Rafans Manado – dari berbagai sumber),-

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda Disini :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s