Sejarah Jalan Roda (Jarod) Di Pusat Kota Manado

Jalan Roda atau yang lebih dikenal oleh seluruh masyarakat Kota Manado sebagai Jarod, adalah suatu tempat yang terdapat di pusat Kota Manado.

Jalan Roda (Jarod) di Pusat Kota Manado

Jarod sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda di Indonesia jauh sebelum tercetusnya Perang Dunia I dan II. Sewaktu Kota Manado masih disebut “Wenang”  oleh penduduk yang berdiam di pedalaman daerah Minahasa. 

Alat transportasi yang dipakai oleh penduduk dari pedalaman Minahasa untuk datang ke Kota Manado hanyalah pedati yang ditarik oleh sapi atau kuda. Pedati yang bahasa lokalnya adalah Roda, biasanya mengangkut bahan-bahan hasil bumi dari daerah Minahasa untuk dipasarkan di kota Manado.

Roda-roda itu datang dari desa-desa Minahasa, baik dari arah Tomohon, Tonsea, Tanawangko, dan Wori,  kesemuanya  berpusat di jalan yang kemudian di namakan Jarod (Jalan Roda), karena berfungsi sebagai stasiun pedati (roda).

Lokasi ini berdekatan dengan pasar besar yang dinamakan Pasar Minahasa, yang sekarang  oleh orang Manado disebut dengan istilah lokasi Shoping Centre.

Di tempat inilah orang-orang dari pedalaman Minahasa yang ketika itu disebut orang gunung, berinteraksi dengan warga yang mendiami Kota Manado yang terdiri dari berbagai suku dan etnis pada zaman itu.

Sejak zaman itu pulalah terbentuk bahasa percakapan yang kemudian dikenal dengan bahasa Melayu Manado, dengan dialeknya maupun arti katanya bercampur-baur yang berasal dari berbagai suku dan etnis.

Lagu “Oh Ina Ni Keke”, diciptakan karena terinspirasi oleh kondisi ketika itu. Di sekitar tahun 1950 di sudut Jarod ini terdapat sebuah penginapan milik orang Tionghoa bernama Penginapan Celebes. Penginapan ini menjadi tempat menginap untuk bermalam dari para pedagang yang datang dari luar Kota Manado.

Ketika roda mulai digantikan perannya oleh mobil, sampai pada pertengahan abad XX, masih ada roda-roda dari pedalaman Minahasa yang diparkir di Jarod, tapi khusus mengangkut bambu untuk dijual.

Pada waktu Kota Manado mulai ramai dan padat dengan berbagai kendaraan bermotor, semua pedati dilarang memasuki pusat kota lagi.

Saat ini, sekalipun tidak lagi terlihat pedati di lokasi ini, namun nama Jarod tetap abadi dan transaksi warga di tempat ini tetap berjalan sebagaimana biasanya, bahkan berkembang seiring kemajuaan zaman dan dinamika masyarakat.

Tempat ini oleh Pemerintah Kota Manado telah direnovasi menjadi salah satu obyek wisata kuliner Kota Manado. (Editor : Rafans Manado – Sumber, Louis Nangoy, SH),-

One response to “Sejarah Jalan Roda (Jarod) Di Pusat Kota Manado

  1. Ping-balik: Baju For Sale | Pakaian Adat Batak

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda Disini :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s