Daerah Di Indonesia Dan Event MICE

10 (sepuluh) destinasi wisata MICE Indonesia, yakni : Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Balikpapan, Medan, Batam-Bintan, Padang-Bukittinggi, Makassar, dan Manado.

Gedung Manado Convention Center (MCC) di Kota Manado

Industri konvensi atau yang dikenal dengan sebutan industri Meeting, Incentive, Conference, dan Exhibition (MICE) tidak hanya terkait dengan persoalan venue, akomodasi (hotel), transportasi (angkutan), dan pemasaran. Akan tetapi hal yang lebih penting lagi adalah menyangkut bagaimana memainkan lobi.

Kota-kota di Indonesia memiliki kelayakan untuk menggelar event MICE walau tergantung pada skala dan ukuran pertemuan itu. Tapi rata-ratanya dengan perkembangan yang agresif dalam bidang perhotelan dewasa ini, semua kota-kota di Indonesia dapat menggelar pertemuan dengan minimal 250 sampai 500 orang.

Sebaliknya, suatu kota dengan variasi venue dan hotel yang lebih besar dan didukung oleh peralatan high tech untuk konferensi, tidak bisa juga mutlak-mutlakan disebut pasti akan menyelenggarakan lebih banyak event MICE. Bahwa kota ini lebih memiliki potensi yang lebih besar dibandingkan kota lain, benar, tapi jika tidak diimbangi dengan pemenuhan faktor lain seperti pemasaran (dalam arti luas) dan lobi, juga tidak akan maksimal hasilnya.

Hal ini perlu dijelaskan untuk tidak mematahkan kota-kota lain di Indonesia yang sedang getol-getolnya membidik wisata MICE seperti Kota Manado. Tidak banyak pemimpin daerah yang melihat nilai tambah MICE bagi daerahnya, misalnya terhadap perkembangan sektor investasi, perdagangan, promosi daerah, perbaikan fasilitas publik, usaha kecil dan menengah dan seterusnya; sebaliknya jika pun ada, mereka mungkin tidak cukup cerdas untuk memainkan strategi untuk membawa event MICE itu ke daerah mereka.

Bagaimana seharusnya lobi itu dimainkan ? Pasar MICE itu adalah organisasi (asosiasi), entah itu pemerintah (IGO’s), swasta (Corporates), dan non-pemerintah (NGO’s). Semua punya potensi. Pasar corporates itu memang kecil-kecil (pesertanya) tapi cukup sering mereka menggelar pertemuan. Keunggulan Singapura justru karena mampu membidik pasar ini, dan jika dikumpulkan jumlah wisatawan (pesertanya) bisa banyak juga per tahun.

Langkah pertama bagi daerah untuk mengembangkan MICE ini tentu saja harus berpijak dari pemahaman terhadap pasar ini, yakni bagaimana karakteristiknya, bagaimana organisasinya, bagaimana pola pertemuan yang dimilikinya (berotasi atau bukan), siapa pemegang hak untuk menetapkan tuan rumah dan bagaimana mereka menetapkannya (apakah dengan bidding terbuka atau ditetapkan dalam rapat dewan eksekutif asosiasi/organisasi), dan lainnya.

Dengan demikian pemahaman organisasi/asosiasi ini sangat penting. Coba bayangkan, untuk asosiasi/organisasi kesehatan saja ada begitu banyak asosiasi-asosiasi turunan yang eksis secara internasional maupun nasional, misalnya ikatan dokter gigi, ahli bedah, ahli ginjal, asosiasi obat dan seterusnya. Begitu juga asosiasi/organisasi yang bersifat ekonomi, politik, ormas, dan lainnya. Kalau didata, akan ada ratusan bahkan ribuan asosiasi/organisasi. (Editor : Rafans Manado – Sumber, Johanis Sirait – Pusat Analisis Informasi Pariwisata),-

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda Disini :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s