Model Pendidikan Di Bidang Pariwisata

Pendahuluan

Pada tanggal 18 Februari 2008 Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi di Kementerian Pendidikan Nasional RI telah menyetujui Pariwisata sebagai Disiplin Ilmu Mandiri karena telah memenuhi 3 (tiga) aspek persyaratan filsafat ilmu, yaitu aspek ontologi (objek atau focus of interest yang dikaji), aspek epistemologi (metodologi untuk memperoleh pengetahuan), dan aspek aksiologi (nilai manfaat pengetahuan bagi kehidupan) sehingga dapat dibuka perguruan tinggi ilmu pariwisata untuk jenjang S1, S2, dan S3 di Indonesia. Dengan adanya persetujuan ini, menjadi tonggak awal mulai berkembangnya ilmu pariwisata di Indonesia.

Gunung Berapi Bawah Laut Banua Wuhu di Kab. Sangihe – Provinsi Sulawesi Utara (Sulut)

Berbicara ilmu pariwisata tidak hanya berbicara ilmu pada tingkat perguruan tinggi saja, melainkan harus mulai dari Sekolah Dasar (SD) bahkan sebelum anak mulai sekolah (usia dini), karena pariwisata bukan merupakan keterampilan tertentu yang hanya dapat dipelajari satu atau dua semester kemudian selesai, melainkan suatu ilmu yang memerlukan pemikiran yang komprehensif yang diturunkan dari cita-cita pembangunan nasional, dalam rangka mengokohkan Ideologi, Politik, Soial Budaya, dan Pertahanan serta Keamanan (IPOLEKSOSBUDHANKAM) Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang bersahabat dan turut serta menciptakan perdamaian dunia yang abadi.

Pendidikan Vokasi Dan Pendidikan Akademik

Pendidikan vokasi tidak dapat di perbandingkan dengan pendidikan akademik, begitu juga sebaliknya. Karena kedua model pendidikan ini memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing.

Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian tertentu yang setara dengan program sarjana. Sedangkan pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi program sarjana dan pascasarjana yang diarahkan terutama pada penguasaan disiplin ilmu pengetahuan tertentu.

Pendidikan vokasi kelebihannya adalah sangat siap untuk memasuki dunia kerja karena telah dibekali pekerjaan dengan keahlian tertentu, sedangkan pendidikan akademik belum siap untuk memasuki dunia kerja karena tidak dibekali pekerjaan dengan keahlian tertentu sehingga harus memerlukan penyesuaian terlebih dahulu.

Kelemahan pendidikan vokasi adalah dalam hal penjenjangan pekerjaan, karena dalam dunia kerja sangat dinamis dan biasanya mengalami kenaikan jabatan mulai dari level paling rendah sampai pada level yang paling tinggi. Manakala pegawai yang berlatar belakang pendidikan vokasi dinaikkan ke jabatan yang lebih tinggi biasanya mengalami kesulitan dalam hal kemampuan berfikir komprehensif dan analitiknya sehingga memerlukan tambahan pendidikan akademik.

Kelebihan pendidikan akademik adalah dalam hal penjenjangan pekerjaan, walaupun dalam dunia kerja sangat dinamis dan biasanya mengalami kenaikan jabatan mulai dari level paling rendah sampai pada level yang paling tinggi. Bagi pegawai yang berlatar belakang pendidikan akademik dinaikkan ke jabatan yang lebih tinggi biasanya tidak mengalami kesulitan karena memiliki kemampuan berfikir komprehensif dan analitik yang kuat.

Model Pendidikan Vokasi

Model pendidikan vokasi sampai kapan pun akan tetap dibutuhkan, karena suatu industri terutama industri pariwisata akan memerlukan tenaga kerja yang siap pakai dalam hal kemampuan bekerja dan keterampilannya. Di dunia industri pariwisata sangat tidak mungkin seseorang yang baru selesai dari pendidikan kemudian ditempatkan sebagai manager (kecuali sang pemilik industri tersebut), biasanya ditempatkan pada level yang kosong bahkan ditempatkan pada level yang paling bawah, kemudia setiap hari atau minggu atau bulan bahkan tahun akan mengalami progress, sesuai dengan latar belakang pendidikan dan kecakapan dalam bidang pekerjaannya.

Tenaga profesional yang dianggap unggul atau profesional oleh pengelola ternyata jika memiliki pendidikan manajemen kepariwisataan, yaitu setidaknya D3. Selain itu mampu berbahasa Inggris yang aktif untuk melayani wisatawan mancanegara. Lulusan yang diharapkan oleh para pengelola pariwisata antara lain mereka yang siap kerja sehingga pihak perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mengadakan pendidikan dan latihan (diklat). Dengan model pendidikan vokasi maka perusahaan/industri pariwisata dapat menghemat anggaran diklat bagi karyawan baru, karena lulusan pendidikan vokasi telah dididik dengan berbagai keahlian yang siap pakai.

Model Pendidikan Akademik

Model pendidikan akademik diarahkan pada hasil lulusan yang menguasai kemampuan dalam melaksanakan pekerjaan yang kompleks, dengan dasar kemampuan profesional tertentu, termasuk keterampilan merencanakan, melaksanakan kegiatan, memecahkan masalah dengan tanggung jawab mandiri pada tingkat tertentu, memiliki keterampilan manajerial, serta mampu melakukan penelitian untuk mengembangkan dan mencipta pengetahuan, dan teknologi dalam bidang keahliannya.

Untuk mengatasi berbagai persoalan yang memerlukan pemikiran dan daya analisis yang komprehensif, memang sangat memerlukan tenaga-tanaga yang berasal dari lingkungan pendidikan akademik mulai dari level S1 sampai pada level S3.

Oleh karena itu tidak berarti semua jenjang pendidikan harus memburu pada jenjang akademik, tetapi harus tetap ada jenjang vokasional untuk menutupi kebutuhan tenaga operasional. Kecuali kalau semua industri kepariwisataan sudah menggunakan mesin-mesing canggih sehingga tidak diperlukan tenaga operasional, maka bisa jadi bidang vokasional ditutup dan dijadikan bidang akademik. Tetapi nampaknya ke depan 10 sampai 20 tahun ke depan tenaga operasional masih tetap dibutuhkan, terutama dalam bidang usaha jasa layanan seperti bidang kepariwisataan.

Penjenjangan Pendidikan

Pendidikan bidang pariwisata diperlukan penjenjangan dalam arti tingkat pendidikan mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai pada pendidikan tinggi. Mengingat bidang pariwisata merupakan industri yang melibatkan semua komponen, bukan hanya pemilik dan pelaku usaha kepariwisataan tetapi masyarakat sekitarpun ikut mewarnai dan mempengaruhi. Oleh karena itu pendidikan pariwisata mestinya menggunakan prinsip “Tourism Education for All” seperti yang di isyaratkan dalam pembangunan pariwisata masa depan dengan menggunakan konsep CBTD (community Basse Tourism Development), yaitu pembangunan kepariwisataan berbasis masyarakat.

Bukan hanya masyarakat (sosial budaya) sekitar yang harus diperhatikan dalam pengembangan pariwisata, melainkan aspek lingkungan dan aspek ekonomipun harus dipertimbangkan.

Model Pendidikan Di Sekolah Dasar Dan Menengah

Pariwisata merupakan ilmu yang harus diterapkan sejak dini, yaitu sejak anak-anak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Tentunya tidak harus dalam bentuk mata pelajaran sendiri, melainkan harus terintegrasi dengan mata pelajaran yang lain, tetapi memiliki muatan kepariwisataan baik yang bersifat lokal maupun nasional bahkan global.

Anak-anak harus diajak untuk memahami dan mengamati di lingkungan sekitar sekolah atau di tempat-tempat yang ramai dikunjungi pada waktu libur atau waktu-waktu tertentu. Kemudian anak diajak berfikir bahwa setiap manusia mempunyai hak asasi untuk menikmati dan mengunjungi tempat-tempat tertentu yang dianggap menarik.

Fenomena tersebut biasanya akan menimbulkan gerak penduduk (mobilitas penduduk) sehingga akan memerlukan sarana tertentu, misalnya : angkutan, akomodasi, tempat makan, dan tempat rekreasi. Kesemuanya apabila ditata dengan baik akan menciptakan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Kemudian diberi pemahaman bahwa kita sebagai penduduk asli perlu memiliki sikap ramah, terbuka, dan membantu mereka tanpa harus mengorbankan perilaku dan budaya yang kita pegang selama ini. Sikap-sikap tersebut akan menimbulkan rasa nyaman, ingin tinggal lama di tempat rekreasi, dan rasa bersahabat diantara wilayah dan daerah.

Pariwisata tidak harus dengan biaya investasi yang tinggi atau teknologi canggih, dengan berperilaku apa adanya sesuai dengan norma dan budaya yang dipegang akan membuat orang lain penasaran ingin tahu dan ingin mengunjungi, ditambah dengan sifat disiplin, bersih, dan penciptaan rasa aman. Hal-hal semacam inilah yang harus diajarkan pada anak sekolah dasar sampai menengah. Bentuk pembelajarannya dapat dilakukan dengan cara study wisata ke tempat-tempat yang mudah dijangkau oleh mereka.

Model Pendidikan Di Pendidikan Vokasi

Pendidikan vokasi yang telah dilakukan oleh lembaga pendidikan pariwisata telah berjalan cukup baik, hal ini jika dilihat dari indikator banyaknya lulusan pendidikan vokasi yang diserap di lapanan kerja. Jika menggunakan indikator serapan tenaga kerja, sebetulnya lembaga pendidikan vokasi harus tetap dipertahankan, tinggal dibenahi mutu dan kualitasnya setiap tahun sesuai dengan perkembangan kebutuhan dan teknologi yang ada.

Tenaga pendidik di lembaga vokasi harus memiliki keterampilan yang tinggi, karena akan membekali anak didik dalam bidang keterampilan pekerjaan pada bidang tertentu. Sehingga jika dibandingkan antara teori dan praktek, mata kuliah praktek lebih dominan dengan laboratorium yang lebih lengkap dengan bobot lebih dari 50%.

Bentuk pendidikannya lebih banyak praktek baik di kelas, laboratorium maupun di industri (lapangan). Bentuk kelas dan kegiatan pembelajaran dibuat sedekian rupa menyerupai tempat bekerja nanti, sehingga mahasiswa sudah tidak canggung lagi dalam melaksanakan tugasnya. Pada awalnya anak didik dibekali pengetahuan dasar, kemudian di bawa ke laboratorium untuk praktek. Setelah praktek kemudian dievaluasi mana yang dapat dilakukan dan mana yang tidak dapat dilakukan. Setelah dievaluasi mahasiswa dibawa praktek lagi di laboratorium sampai betul-betul anak didik menguasai apa yang sedang dipelajari.

Setelah dianggap cukup, anak didik di bawa ke lapangan dalam bentuk on the job training di industri kepariwisataan. Pada prinsipnya anak-anak disuruh melakukan praktek, tetapi jika dilakosi on the job, bukannya praktek tetapi melakukan kegiatan yang sesungguhnya, karena yang dilayani adalah para tamu yang betul-betul sedang berkunjung dan menikmati kawasan wisata/rekreasi. On the job training di lembaga vokasi dilakukan dua kali agar betul-betul siap pakai.

Model Pendidikan Di Pendidikan Akademik

Pendidikan pariwisata di lembaga pendidikan akademik agak berbega dengan pendidikan di lembaga pendidikan vokasi. Di lembaga pendidikan akademik porsi praktek lebih sedikit ketimbang di lembaga vokasi, karena mereka disiapkan untuk menjadi pemikir atau manajer di suatu kawasan wisata. Sehingga dalam proses pembelajaran lebih banyak pada aspek problem basse learning (PBL) dan berbasis research.

Model semacam ini nampaknya secara keterampilan dianggap tidak siap, tetapi apabila di suatu industri kepariwisataan mengalami persoalan yang complicated anak-anak vokasional tidak akan sanggup mengatasi tetapi harus oleh anak-anak yang memiliki latar belakang pendidikan akademik. Sebagai contoh jika suatu kawasan wisata mengalami penurunan tingkat kunjungan wisata apa yang harus dilakukan ? Jika mengalami gangguan dengan masyarakat sekitar apa yang harus dilakukan ? Kebijakan apa yang harus diambil agar tingkat kunjungan wisata terus meningkat ? Bagaimana cara menempatkan SDM agar usaha kepariwisataan efektif dan efisien ? Apakah perlu perluasan usaha mengingat pengunjung terus meningkat ? dan beberapa pertanyaan lain yang tidak mudah untuk di jawab.

Model-model pertanyaan semacam itu harus menjadi bahan kajian dalam membina mahasiswa bidang pendidikan akademik. Tetapi walaupun demikian bukan berarti pendidikan akademik tidak memerlukan pratek di laboratorium atau lapangan. Praktek masih tetap diperlukan sebagai kemampuan dasar dalam menekuni bidang pekerjaan tertentu sebagai modal awal untuk memasuki dunia kerja. Sambil terus berproses sampai pada posisi yang sebenarnya, yaitu sebagai manajer dalam bidang usaha kepariwisataan.

Kesimpulan

  1. Pariwisata telah diakui sebagai suatu disiplin ilmu mandiri dan dapat dibuka perguruan tinggi untuk jenjang pendidikan S1, S2, dan S3 di Indonesia, karena dari aspek ontologis, epistimologi, dan aksiologi telah memenuhi syarat sebagai ilmu yang harus dikembangkan.
  2. Dibukanya bidang pendidikan akademik (S1 sampai S3), bukan berarti pendidikan vokasi (D1 sampai D4) kemudian dihapuskan. Karena ada perbedaan orientasi antara pendidikan vokasi dengan pendidikan akademik. Pendidikan vokasi diarahkan untuk memasuki dunia kerja yang sifatnya operasional, sedangkan pendidikan akademik diarahkan untuk memasuki dunia pengembangan dan penelitian yang sifatnya pemikir dan manajerial.
  3. Pendidikan pariwisata harus dimulai dari tingkat pendidikan dasar dan menengah sampai ke perguruan tingggi. Mengingat kepariwisataan sangat terkait dengan bidang lain secara komprehensif, sehinggga perlu adanya kesadaran dari para genarasi muda tanpa harus mengorbankan moral dan budaya yang selama ini dianut.
  4. Model pendidikan pariwisata di tingkat dasar sampai menengah lebih diarahkan pada apek afektik dan psikomotor dalam bentuk study tour ke daerah sekitar yang mudah dijangkau agar dapat menumbuhkan semangat mencintai dan menghargai lingkungan dan karya seni yang tumbuh didaerahnya.
  5. Model pendidikan vokasi lebih diarahkan pada pembekalan keterampilan pekerjaan operasional, sehingga siap pakai dan bentuk pembelajarannya lebih besara dalam bentuk praktek di laboratorium atau lapangan (on the job training).
  6. Model pendidikan akademik lebih diarahkan pada pembekalan kemampuan untuk pengembangan dan penelitian agar dapat mengatasi berbagai persoalan yang sifatnya complecated. Bentuk pembelajarannya lebih banyak bersifat manajerial konsepsional dengan model problem basse learning dan basse research. (Editor : Rafans Manado),-

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda Disini :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s