Faktor – Faktor Yang Menjadi Daya Tarik Wisata

Potingan ini merupakan faktor-faktor yang menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk datang mengunjungi suatu Daerah Tujuan Wisata (DTW) dan implikasi faktor-faktor dimaksud terhadap perencanaan pariwisata daerah.

Kebun Sayur Kol di Kota Tomohon – Sulawesi Utara (Sulut)

Selama ini perencanaan pariwisata daerah lebih berorientasi pada sisi pasokan (supplyside), yakni lebih banyak berorientasi kepada sumberdaya yang ada di daerah. Dengan semakin meningkatnya persaingan dan tuntutan dari para wisatawan (more demanding tourists), diperlukan pendekatan perencanaan yang lebih komprehensif dengan mempertimbangkan ekspektasi wisatawan yang datang berkunjung ke suatu DTW atau sisi permintaannya (demand side).

Dengan menggunakan teknik analisis faktor (factor analysis) maka dapatlah di identifikasikan 8 (delapan) faktor daya tarik bagi wisatawan untuk datang berkunjung ke suatu DTW, yakni : (1) Harga-harga produk wisata yang wajar, (2) Budaya dalam berbagai bentuk manifestasinya, (3) Pantai dengan segala daya tariknya, (4) Kenyamanan berwisata, (5) Kesempatan luas untuk relaksasi, (6) Citra (image) atau nama besar , (7) Keindahan alam, (8) Keramahan penduduk setempat.

Berdasarkan hal-hal tersebut, disarankan agar dalam perencanaan pengembangan pariwisata daerah maka kedelapan faktor daya tarik tersebut dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan. Dengan demikian, diharapkan rencana pengembangan pariwisata daerah yang disusun dapat merespons lebih efektif peningkatan tuntutan wisatawan dan persaingan di antara berbagai DTW.

Sejak berlangsungnya konferensi dunia di bidang lingkungan hidup (Globe’90) di Vancouver Kanada, para pemangku kepentingan (stakeholders) dalam bidang pariwisata mulai menaruh perhatian terhadap arti penting pembangunan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism development). Data pertumbuhan pariwisata dunia semenjak 1960-an sebagaimana dipublikasikan oleh World Tourism Organization (WTO) setiap tahunnya menarik perhatian banyak negara atau daerah untuk mengembangkan pariwisata sebagai salah satu alternative untuk meningkatkan kinerja pembangunan di negara atau daerah masing-masing.

Akan tetapi, sayangnya banyak daerah dilaporkan mengalami kegagalan dalam pembangunan pariwisata karena kurang memperhatikan arti penting keberlanjutan (sustainability) dimaksud. Karena mereka terlalu berorientasi kepada target angka-angka pertumbuhan yang harus dicapai, sehingga kurang memperhatikan aspek-aspek yang berkaitan dengan pelestatarian lingkungan dan keberlanjutan aktivitas pariwisata di daerah tersebut.

Pariwisata dinilai oleh banyak pihak memiliki arti penting sebagai salah satu alternatif pembangunan, terutama bagi negara atau daerah yang memiliki keterbatasan sumberdaya alam. Untuk memaksimumkan dampak positip dari pembangunan pariwisata dan sekaligus menekan serendah mungkin dampak negatif yang ditimbulkan, diperlukan perencanaan yang bersifat menyeluruh dan terpadu. Rencana pengembangan pariwisata daerah diperlukan oleh berbagai pihak sebagai pedoman dalam mengembangkan aktivitas di bidang masing-masing.

Bahkan, rencana pengembangan dimaksud harus bersinergi dengan rencana-rencana pembangunan pada sektor-sektor lain dan tetap konsisten dengan rencana pembangunan kepariwisataan nasional secara keseluruhan. Pariwisata merupakan kegiatan yang kompleks, bersifat multi sektoral dan terfragmentasikan, karena itu koordinasi antar berbagai sektor terkait melalui proses perencanaan yang tepat sangat penting artinya. Perencanaan juga diharapkan dapat membantu tercapainya kesesuaian (match) antara ekspektasi pasar dengan produk wisata yang dikembangkan tanpa harus mengorbankan kepentingan masing-masing pihak.

Mengingat masa depan penuh perubahan, maka perencanaan diharapkan dapat mengantisipasi perubahan-perubahan lingkungan strategis yang dimaksud dan menghindari sejauh mungkin dampak negatif yang ditimbulkan oleh perubahan-perubahan lingkungan tersebut. Data dari World Tourism Organization (WTO, 2005) menunjukkan bahwa dalam satu dekade belakangan ini telah terjadi pergeseran yang sangat signifikan dalam peta perjalanan wisata dunia maupun regional. Perubahan ini dapat dilihat dari segi jumlah kedatangan wisatawan ke berbagai negara atau DTW, negara-negara yang menjadi sumber wisatawan, jumlah wisatawan yang melakukan perjalanan, pola perjalanan, serta perilaku dari wisatawan itu sendiri.

Dari data yang ada, terindikasikan adanya pergeseran yang signifikan dalam hal jumlah dan negara asal wisatawan yang berkunjung ke suatu DTW. Perubahan-perubahan ini tidak terlepas dari dinamika yang terjadi, baik dilihat dari sisi permintaan (demand side) maupun dari sisi pasokan (supply side) produk-produk wisata dari berbagai negara atau DTW.

Perubahan-perubahan ini harus segera dapat diantisipasi agar tidak menimbulkan dampak yang kurang menguntungkan melalui sebuah rencana pengembangan pariwisata yang lebih komprehensif dan terpadu.

Gunn (1988) mendefinisikan pariwisata sebagai aktivitas ekonomi yang harus dilihat dari dua sisi, yakni sisi permintaan (demand side) dan sisi pasokan (supply side). Lebih lanjut dia mengemukakan bahwa keberhasilan dalam pengembangan pariwisata di suatu daerah sangat tergantung kepada kemampuan perencana dalam mengintegrasikan kedua sisi tersebut secara berimbang ke dalam sebuah rencana pengembangan pariwisata.

Dari sisi permintaan misalnya, harus dapat diidentifikasikan segmen-segmen pasar yang potensial bagi daerah yang bersangkutan dan faktor-faktor yang menjadi daya tarik bagi daerah tujuan wisata yang bersangkutan. Untuk itu diperlukan penelitian pasar dengan memanfaatkan alat-alat statistik multivariat tingkat lanjut, sehingga untuk masing-masing segmen pasar yang sudah teridentifikasikan dapat dirancang strategi produk dan layanan yang sesuai. Pendapat yang hampir sama juga dikemukakan oleh Beeho dan Prentice (1996) khususnya untuk pengembangan produk wisata (tourim product development).

Pada hakekatnya dinamika pada kedua sisi pariwisata dimaksud dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal maupun internal di masing-masing negara atau daerah asal wisatawan maupun di negara-negara atau daerah yang menjadi tujuan kunjungannya. Gejala ini selanjutnya membawa dampak yang signifikan terhadap kinerja masing-masing negara atau daerah tujuan wisata yang menjadi tuan rumah. Untuk menghindari timbulnya dampak yang merugikan dari dinamika dimaksud, masing-masing negara atau daerah tujuan wisata perlu secepatnya mengambil langkah-langkah penyesuaian terhadap perubahan-perubahan lingkungan strategis yang dihadapi, baik pada tingkat nasional maupun daerah, bahkan sampai ke tingkat fungsional di bidang perencanaan pengembangan daerah tujuan wisata bersangkutan.

Perencanaan merupakan suatu proses pengambilan keputusan tentang hari depan yang dikehendaki. Untuk dapat mengambil keputusan yang tepat diperlukan informasi yang relevan, dapat dipercaya dan tepat pada waktunya. Ketersediaan informasi menjadi semakin penting artinya di era informasi seperti sekarang ini, dimana segala sesuatunya berlangsung semakin cepat dan menjadi semakin kompleks.

Dalam hubungannya dengan perencanaan pariwisata (tourism planning), ketersediaan informasi dari berbagai dimensi sangat diperlukan sebagai landasan pengambilan keputusan. Hal ini dimaksudkan agar rencana-rencana yang dibuat dapat diimplementasikan dan mencapai hasil sebagaimana diharapkan oleh semua pihak. (Editor : Rafans Manado – dari berbagai sumber),-

One response to “Faktor – Faktor Yang Menjadi Daya Tarik Wisata

  1. Kristia nova mamuko

    Faktor faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pariwisata? Minta tolong jelaskan dong

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda Disini :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s