Wisata Bahari (Marine Tourism) Di Indonesia

Secara teoritis, wisata bahari (marine tourism) mencakup kegiatan dan peluang bisnis yang terdiri dari : Sailing, Cruising, Yachting, Diving, Snorkeling, Wind Surfing, Surfing, Jet Ski Sport, Power Boating, Canoeing, Sea Kayaking, Boat Racing, Whale watching, dan Sport Fishing.

Pantai Amurang – Minahasa Selatan – Sulawesi Utara (Sulut)

Hal ini menuntut konsekuensi penyiapan sarana dan prasarana serta pelaku pengelola dan pelaksana; aksesibilitas ke produk dan destinasi marine tourism, dan pedagang perantara alias travel dan tour operator.

Marine tourism dengan kegiatan seperti tersebut di atas, memerlukan pelayanan publik, seperti : SDM penjaga pantai yang handal, SAR yang siap sedia, Peralatan keselamatan/kendaraan di darat sampai helikopter, Peraturan-peraturan/urusan CIQ, keselamatan, keamanan yang berstandar internasional, dan sejumlah teknikaliti lainnya.

Di satu sisi semua faktor-faktor tersebut di atas merupakan persyaratan–requirement yang perlu dipenuhi. Di sisi lainnya, mata rantai faktor-faktor itu menciptakan peluang bisnis : aksesibilitas atau transportasi khusus untuk kegiatan marine, peralatan untuk dipergunakan oleh wisman, tenaga pramuwisata dan marine acitivty guide yang terlatih, mulai dari yang ringan kegiatan memancing, berlayar, berselancar sampai menyelam. Hingga akhirnya tenaga dan peralatan pendukung keselamatan dan keamanan kegiatan di laut.

Beberapa spot kegiatan wisata bahari di Indonesia hingga kini selain masih terbatas dalam jumlah, dan juga skala atau luasnya, juga tampak belum diminati oleh lebih banyak kalangan pengusaha Indonesia. Kebanyakan, hampir semua, diinisiasi, dikelola, dipertahankan dan untuk diperluas oleh pengusaha yang warga asing.

Mereka tentu saja patut diberi hormat atas dedikasi mereka sebagai pioneer. Maka hiduplah kini kegiatan diving di area nun jauh, tapi didatangi oleh wisman juga dari balik dunia : Pulau Raja Ampat di laut Papua Barat, Wakatobi di laut Sulawesi Tenggara, Salayar di laut Sulawesi Selatan, Walea di laut Sulawesi Tengah/Utara, di pulau Mentawai sebelah Barat Sumatra. Adapun pulau Bali dan Bunaken di lepas pantai Manado sudah merupakan destinasi tradisi di pariwisata Indonesia bagi wisata bahari.

Indonesia sudah mempunyai asosiasi pengusaha wisata bahari, Gahawisri (Gabungan Pengusaha Wisata Bahari). Belum jelas jumlah dan kegiatan anggota organisasi ini. Seperti terasa di kegiatan pemasaran ordinary holiday packaged tours, dengan meningkatkan jumlah wisman yang hendak dicapai memerlukan juga penambahan operator tour. Kalau bukan existing player yang meningkatkan kemampuan dan volume bisnis, maka new player haruslah muncul dengan investasi modal, ketrampilan dan keberanian. Agaknya serupa itu juga akan terjadi di sektor marine tourism business.

Para existing player tampaknya diperlukan untuk berkenan menularkan semacam pendidikan dan pelatihan agar tersedia tenaga terampil menangani kegiatan marine tourism. Lebih dari itu, di tengah persaingan yang biasanya menajam ketika terjun di bisnis itu sendiri, kerjasama dan information exchange untuk menerobos pasar dan pemasaran di mancanegara, juga diperlukan antara new entrants dan mereka yang sudah memiliki jam terbang yang panjang. Pemerintah, ya, kembali jadi fasilitator dan supporter dengan kemampuan lembaga dan dana.

Atau, pemerintah sebagai fasilitator dan supporter tetap di garis depan memfasilitasi pengembangan sarana prasarana, sampai kegiatan pendidikan dan pemasaran.

Kalau kita mengetahui situasi riel di kalangan pelaku bisnis yang sudah ada, dan mengetahui tata kelola yang akan dijalankan oleh fasilitator dan supporter pemerintah, ya di Pusat dan di daerah yang berkepentingan maka tentulah calon-calon pemain baru akan dapat melihat mengikuti sinar harapan bisnis, ke mana dan berapa investasi yang akan diperlukan. Dan, dari mana wisman akan datang ? Siapa dan bagaimana upaya mendatangkan mereka ?

Amerika Serikat merupakan salah satu produser wisman terbanyak untuk wisata bahari.

Fakta empiris masa lalu jualah yang mengingatkan, ketika fasilitas dan dalam tanda kutip sarana untuk wisatawan di bangun, antara lain di agro wisata, setahun dua kemudian sarana tersebut menua seperti rumah yang tak ditempati manusia sekalipun baru didirikan, dalam beberapa bulan atapnya bocor, sinar warnanya pudar, kusam dan tak terawat karena memang tak dipakai lantaran wisman tidak cukup memberi hasil membiayai operasi dan maintenance.

Fokus wisata bahari di Indonesia, boleh jadi titik awal baru bagi negeri ini dan pengusahanya, untuk mensublim air laut yang dimikian luas menjadi dollar atau mata uang asing yang gemerincing sampai ke tangan penduduk dipesisir pantai. Pantai laut di Indonesia, nomor dua terpanjang di dunia! Setelah Kanada.

Kalau Pemerintah diibaratkan the ship, maka berlakulah the trade will follow the ship.

Bahasan-bahasan cukup komprehensif dari berbagai aspek mengenai wisata bahari ini telah dihimpun oleh suatu Seminar Nasional Pariwisata Bahari, tanggal 26 Agustus 2008 di Jakarta. Diselenggarakan oleh Ikatan Konsultan Indonesia (Inkindo) bekerjasama dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata serta pihak Batavia Sunda Kelapa Marina (BSKM). (Editor : Rafans Manado – dari berbagai sumber),-

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda Disini :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s