ASEAN Bertekad Perangi Wisata Seksual

Di ASEAN terdapat wisata seksual dengan obyek anak-anak atau pedofilia. Oleh karena itu maka negara-negara di Asia Tenggara bertekad memerangi wisata seksual.

Emblem of ASEAN

Emblem of ASEAN (Photo credit : Wikipedia)

Senior Officer Infrastructure Division ASEAN Secretariat Eddy Krismeidi di sela Workshop on ASEAN Connectivity and Tourism Ethics di Surakarta pada hari Senin, 18 September 2012 mengatakan, pada tahun 2004-2009 sudah dilakukan tindakan agresif melawan wisata seksual, khususnya yang melibatkan pekerja seks anak-anak.

Kampanye besar-besaran itu melibatkan pengelola destinasi wisata dan pemangku wisata di negara tujuan untuk menekan pedofilia. 

Setelah tahun 2009 hingga sekarang, model perlawanan diubah menjadi tindakan preventif, yakni dengan cara setiap sekolah pariwisata wajib menggunakan kurikulum ASEAN yang khusus membahas pedofilia. Ada mata kuliah proteksi terhadap seks anak-anak dan bagaimana melindungi anak-anak.

Mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika mengatakan, ada hukuman berat bagi pelaku pedofilia. Ada dua hukuman, yakni dihukum sesuai dengan aturan yang berlaku di negara tempat si pelaku melakukan kejahatan. Setelah bebas, pelaku dituntut dan dihukum sesuai dengan aturan yang berlaku di negara asal.

Soal penyelenggaraan pariwisata, menurut anggota Komite Dunia tentang Kode Etik Kepariwisataan, perlu penerapan kode etik kepariwisataan sebagai bagian dari industri dan pengembangan pariwisata.

Penerapan kode etik pariwisata, bisa meningkatkan kualitas produk dan pelayanan wisata, meningkatkan daya saing, menjawab tren kebutuhan wisatawan, dan mampu meningkatkan citra bangsa.

Pariwisata tidak hanya bicara ekonomi, tapi juga pengentasan kemiskinan hingga membangun pengertian antar bangsa dalam berbagai perbedaan untuk menciptakan perdamaian dunia.

Secara organisasi, ASEAN belum mengadopsi kode etik pariwisata. Rekomendasi akan dibawa ke pertemuan tingkat menteri pariwisata pada bulan Januari 2013 depan, di Laos. Kode etik pariwisata penting. Indonesia sudah mengadopsi kode etik pariwisata ke dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan. (Editor : Rafans Manado – Sumber, Tempo.Co),-

  • No Words (ateaforathought.wordpress.com)

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda Disini :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s