Tarsius Spectrum Di Taman Nasional Tangkoko

Taman Nasional Tangkoko – Batuangus di Kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) terletak di bagian utara Pelabuhan Samudera Bitung tepatnya di kaki Gunung Dua Saudara.

Tarsius Spectrum – Tangkoko Kota Bitung Sulut

Di kawasan seluas 8.718 hektar ini, terdapat monyet terkecil di dunia, yaitu Tangkasi atau Tarsius (Tarsius Spectrum) yang merupakan hewan endemik Sulawesi.

Hewan ini memiliki panjang sekitar 10-15 cm dengan berat sekitar 80 gram. Tangkasi dapat melompat sejauh 3 meter atau hampir 10 kaki dari satu pohon ke pohon lainnya lalu menghilang dari pandangan mata.

Sifatnya sangat pemalu, berwarna coklat muda, kelima jarinya yang panjang memungkinkan menempel erat pada cabang-cabang pohon. Apabila di perhatikan jari-jarinya memiliki kuku, kecuali jari kedua dan ketiga yang memiliki cakar. Tarsius memiliki ekor panjang tidak berbulu, kecuali pada bagian ujungnya.

Ukuran matanya besar dan mungkin ukuran mata tarsius ini lebih besar dari pada ukuran otaknya. Matanya yang besar sangat bermanfaat untuk aktifitas malam hari. Jadi, memang hewan ini cenderung dapat ditemui pada sore hingga malam hari, sedangkan siang hari lebih banyak dihabiskan untuk tidur. Mangsa hewan ini adalah serangga seperti kecoa, jangkrik, kadang juga reptil kecil, burung, dan kelelawar.

Tarsius tidur dan melahirkan dengan terus bergantung pada batang pohon. Hewan ini tidak dapat berjalan di atas tanah, akan tetapi langsung melompat ketika berada di tanah. Selain itu binatang langka dan unik ini sulit untuk dikembangbiakan di luar habitatnya karena jika ditempatkan dalam kurungan maka tarsius akan stres lalu melukai dirinya sendiri hingga mati.

Keunikan dari tangkasi telah membuat hewan ini diburu ilmuan dan wisatawan untuk diteliti atau diamati. Hingga kini jumlah tangkasi atau tarsius (Tarsius spectrum) terus berkurang dan termasuk hewan  langka yang dilindungi.

Ada 9 jenis tarsius di dunia, 2 di Filipina dan 7 sisanya terdapat di Sulawesi. Dua jenis yang paling terkenal terdapat di Indonesia, yaitu Kera Hantu (Tarsius Tarsier) dan Tarsius Kerdil atau Krabuku Kecil (Tarsius Pumilus atau Pygmy Tarsier). Tarsius Pumilus merupakan jenis tarsius terkecil dengan panjang tubuh antara 93-98 milimeter dan berat 57 gram. Panjang ekornya antara 197-205 milimeter.

Alfred Russle Wallace pada tahun 1850 meneliti tempat ini untuk melihat langsung hewan unik maleo dan babi rusa. Karena penelitiannya sekarang kita mengenal batas imajiner Garis Wallace yang telah membagi dua kelompok satwa antara Bali dan Kalimantan terus ke Selatan. Garis ini juga menjadi batas perpaduan zoogeografi dua wilayah, yaitu : Asia dan Australia. (Editor : Rafans Manado – Sumber, Indonesia Travel),-

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda Disini :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s