Sejarah Singkat Kota Manado

Manado adalah kota terbesar di ujung jazirah Sulawesi Utara (Sulut) dimana sebelum kedatangan bangsa-bangsa barat, lokasi yang sekarang disebut Kota Manado sudah ada walaupun belum bernama Manado.

Pantai Teluk Manado Tempoe Doeloe

Nama Manado berasal dari bahasa Tombulu tua, yakni Manoir yang sepadan dengan Maharor, Maerur atau Maherur dalam bahasa yang sama yang berarti berkumpul untuk berunding. Konon lokasi ini dahulu adalah Pahawinaroran ni Tasikela, yang artinya tempat berkumpul orang-orang Spanyol. Maksudnya suatu tempat dimana orang Minahasa dan orang Spanyol bertemu dan berkumpul untuk melangsungkan suatu perundingan.

Ada pula yang mengatakan bahwa Manado berasal dari kata Manarou atau Wana Rou yang berarti tempat yang jauh. Manado juga berasal dari rangkaian kata Manadou, Mana ndou, dan Mana dou dimana artinya juga tempat yang jauh.

Selanjutnya nama Manado dahulu kala dihubungkan dengan nama lokasi Wenang atau lengkapnya Wanua Wenang yang menurut legenda didirikan oleh seorang tokoh dari Walak Ares bernama Dotu Lolonglasut.

Kata Wenang diambil dari nama sejenis kayu, yakni Macaranga Hispida yang pada masa itu menurut kisah banyak tumbuh. Kayu sejenis ini kulitnya sangat berguna sebagai bahan penyamak jala nelayan agar tidak lekas lapuk oleh air laut.

Selain itu nama lokasi ini pernah disebut sebagai Mandolang atau lengkapnya Mandolang Amian (Mandolang Utara) untuk membedakannya dengan Mandolang Talikuran (Mandolang Barat), yakni lokasi yang sekarang ini terletak di arah barat daya Kota Manado. Kata Mandolang diambil dari bahasa Tombulu tua, yakni Maodalan yang artinya kunjung-mengunjungi. Berhubung tempat tersebut sering di kunjungi oleh para pelaut bukan Minahasa yang datang untuk mengadakan hubungan dagang berupa tukar-menukar barang dengan orang Minahasa waktu itu.

Tempat tersebut dimasa lalu juga disebut sebagai Tumpuhan Wenang atau Labuan Wenang. Sebutan pertama berkaitan erat dengan lokasi tempat berdagang orang-orang Minahasa dari pedalaman dengan orang-orang luar. Sedangkan Labuan Wenang dimaksudkan sebagai lokasi pesisiran dimana orang-orang luar Minahasa datang dan berlabuh untuk berdagang dengan orang Minahasa.

Mengingat eratnya penamaan lokasi diatas dengan urusan perdagangan, maka dapatlah dikatakan bahwa nama Manado mulai dikenal dunia luar sejalan dengan ramainya kegiatan perdagangan dimasa itu. Bersamaan dengan itu pula masuklah pengaruh bahasa Melayu yang dibawah oleh pedagang nusantara. Bahasa itu sering digunakan dan disebut bahasa Melayu Pasar yang sekarang ini telah berkembang menjadi bahasa Melayu Manado.

Menurut riwayat perkembangan sejarah Indonesia, Kota Manado telah  dikenal  dan  didatangi oleh orang-orang dari luar negeri sejak abad ke – 16. Akan tetapi momentum yang lebih banyak memiliki kesan-kesan historis dalam dokumen negara, yakni pada abad ke – 17 khususnya di tahun 1623.

Sebelum Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Manado merupakan pusat pemerintahan dari wilayah Keresidenan Manado yang pada waktu itu meliputi pulau Miangas (pulau paling utara dari Sulawesi Utara) sampai ke Kolonedale di Sulawesi Tengah.

Oleh karena pengaruh situasi politik dan struktur pemerintahan, maka status Kota Manado dari masa ke masa mengalami perubahan-perubahan, mulai dari status Gemeente Manado hingga berstatus daerah Kota Manado. (Editor : Rafans Manado – Sumber, Pemkot Manado),-

21 responses to “Sejarah Singkat Kota Manado

  1. Informasinya sangat bermanfaat sekali, kebetulan saya baru tiga bulan tinggal di Manado, dan masih mencari referensi yang baik tentang Manado. Tulisan ini sangat bermanfaat buat saya yang ingin sekali mengenal tentang Manado lebih jauh lagi dan lebih lengkap. Saat ini yang saya butuhkan juga adalah bagaimana berbahasa Manado, dan juga bahasa Minahasa. Terima kasih atas tulisannya.

    • Manado bukan Minahasa,(sejarah Minahasa-Kontrak 19 Januari 1679 hal 61). Minahasa itu Malesung, disebut oleh orang Sangir Tau Kaporo (orang yang hidup digunung), sehingga sekarang ini orang Minahasa disebut orang gunung. Manarauw adalah wilayah toritorial dari kerajaan Sangihe-Talaud yang terjauh, hingga kini etnis Sangihe Talaud menyebut Manado adalah Manarauw. Wilayah kerajaan Manarouw sesuai memori Padtbrugge disebut menurut nama asalnya meliputi : P. Manarauw(Manado Tua), P. Siladeng, P. Bunaken, P. Mantehage, P. Nain, P. Talise, P. Gangga, P. Bangka dan P. Lembeh serta daerah pesisir pulau Sulawesi.

      ***[Sumber tulisan: Buku karya Shinzo Hayase, Domingo M. Non, dan Alex J. Ulaen yang berjudul “SILSILAS/TARSILAS (GENEALOGIES) AND HISTORICAL NARRATIVES IN SARANGGANI BAY AND DAVAO GULF REGIONS, SOUTH MINDANAO, PHILIPPINES, AND SANGIHE-TALAUD ISLANDS, NORTH SULAWESI, INDONESIA” halaman 251-252]. Hingga kini lokasi-lokasi tersebut masih ditempati oleh suku Sangihe Talaud dan Sitaro.

      Kerajaan Manarouw merupakan pembentukan oleh Gubernur VOC Maluku, Robertus Padtbrugge ketika berada di Manarow (Gahenang/Wenang/Manado tahun 1677), memindahkan ke Singkil 54 orang dari (pulau Manarouw Manado Tua).
      Penduduk/Rakyat kerajaan Manarow adalah orang Sangir-Talaud, sesuai catatan Gubernur VOC Maluku, Robertus Padtbrugge ketika berada di Manado tahun 1677 mengatakan bahwa orang Sangir Tualah adalah penduduk pribumi yang pertama di Manado, yakni sekitar tahun 1332.

      Perdagangan dengan VOC di Sulawesi Utara ditandatangani di Manado oleh Raja Siau (ada di Arsip Sulut). Wilayah-wilayah khususnya Manado dan sekitarnya terakhir di serahkan oleh Raja Siau ke XVII bernama A.J.Mohede pada tahun 1908-1912 kepada asisten residen. Wilayah ini terpisah dari sejarah orang Sangir-Talaud oleh karena penjajah Belanda dan setelah Pada tahun 1951 dimana Manado menjadi Daerah Bagian Kota dari Minahasa sesuai Surat Keputusan Gubernur Sulawesi tanggal 3 Mei 1951 Nomor 223, tapi hingga kini penduduk terbanyak di Kota Manado berasal dari Etnis Sangihe Talaud.

  2. sejarah yg mengada ngada,…penulis buta sejarah….

  3. Koreksi soal: Nama “Manado” mulai digunakan pada tahun 1623 menggantikan nama “Pogidon” atau “Wenang”. Kata Manado sendiri berasal dari bahasa daerah Minahasa yaitu Mana rou atau Mana dou yang dalam bahasa Indonesia berarti “di jauh”.

    1. Kenapa ada Dua Kembaran Nama yaitu MANADO yang ditambahkan kata “TUA” yang merujuk ke Pulau MANADO TUA dan MANADO yang saat ini disebut Kota MANADO??

    Sangat jelas bahwa Pulau MANADO TUA adalah Nama yang pertama kali masuk dalam Peta Dunia yang ditulis oleh seorang Kartografer yaitu Nicolas Deslin Tahun 1541.. dimana Pulau MANADO TUA oleh Bangsa Eropa yang pertama kali mendarat di Sulawesi Utara adalah Bangsa Portugis Tahun 1523.. bahkan sebelum masuk dalam Peta Dunia, Bangsa-bangsa Eropa telah mendengar Nama MANADO, sehingga pada saat Ekspedisi Bangsa Portugis mengarungi Laut Sulawesi Utara yang dipimpin oleh Nahkoda Simao Da’Breu pada bulan Mei 1523, dalam ekspedisi ini Simao Da’Breu dilaporkan melihat Manado dalam hal ini Pulau Manado Tua..

    Dan Penemuan Pulau MANADO TUA dicatat Gubernur Portugis di Maluku ANTONIO GALVAO dalam bukunya yang berjudul dalam TRATADO yang diuraikan dengan satu kalimat pendek: ‘Ouueram vista das ylhas de Manada…’ atau ‘Mereka melihat pulau Manado..

    2. Jikalau Nama MANADO menggantikan WENANG atau POGIDON.. lalu kenapa Nama WENANG dan PONGIDON (PONDOL) hingga saat ini masih ada dan wilayahnya hanya sebesar Kelurahan dan Kecamatan, seharusnya secara Logika kalau sudah di Ganti maka Nama WENANG dan PONGIDON (PONDOL) sudah musnah atau tidak digunakan lagi??

    Berarti sebelum Nama WENANG dan PONGIDON itu ada, Nama MANADO telah terlebih dahulu ada.

    3. Nama MANADO bukan hanya sekedar Nama tetapi itu mengandung makna Teritorial/Kekuasaan dari Kerajaan BOWONTEHU yang berada di Pulau MANADO TUA dengan Raja-rajanya yang Gagah Berani pernah memerintah disana yaitu MARIKA, LUMENTUT dan WULANGKALANGI..

    4. Pendeta Jocabus Montanus 1675 mengatakan bahwa disini (MANADO) pernah berkuasa Kerajaan BOWONTEHU..

    5. Gubernur Jenderal Belanda di Ternate Dr. Robertus Padtbrugge yang berada di Manado pada 1677-31 Agustus 1682, mencatat sisa-sisa Penduduk Kerajaan BOWONTEHU di Sindulang.

    Penduduk inilah yang kemudian menjadi Dasar “KLEIJNE MANADOSE GEMEENTE = Penghuni Kota Manado mula-mula”.. dan tercatat sebagai Balak/Walak yang ikut menandatangani Kontrak 10 Januari 1679 bersama para Balak/Walak di Minahasa lainnya.

    Di Pakasaan/Balok-Walak/Distrik MANADO pada saat itu sudah terdapat Kedudukan Residen, Komandan Serdadu, Sekretaris dan Pendeta.. termasuk Pendeta Ds. Jacobus Montanus (1675), ada Penjara Besi, Gudang-gudang Kopi, Sekolah Belanda dan Sekolah Melayu yang sekaligus digunakan sebagai Gereja.

    Penduduk terbanyak adalah Orang BURGER (BORGO) atau Penduduk Manarouw-Bobentehu yang kawin mawin dengan Bangsa Eropa yaitu Portugis, Spanyol dan Belanda yang bekerja sebagai Serdadu.

    Ibu Kotanya adalah “SINDULANG”, yang berpenduduk ± 629 Orang.. dan wilayah yang terhitung masuk Pakasaan/Balok-Walak/Distrik MANADO adalah Calaca, Pondol, Makeret, Tokambena, Kampung Kodo dan Komo disebelah Selatan dan diutara yaitu Sindulang I-II, Bitung Karang Ria, Maasing, Tumumpa, Cempaka, Batu Saiki, Tongkaina serta Pulau Manado Tua, Bunaken, Siladen, Mantehage, Nain, Bangka, Talise dan ada juga kampung orang asing yaitu kampung Ternate dan Bajo.

    Adapun Hukum Besar (Major) yang mengepalai Pakasaan/Balok-Walak/Distrik MANADO adalah : Hoampengan (Rampengan) Thn. 1679, Siwi (Soebij) Thn. 1728, Gerrit Opatija..

    6. Nicolaas Graafland (1868), pendeta di Tanawangko dan Sonder,dalam bukunya yang berjudul “DE MANADOREZEN 1868” Mencatat bahwa Kerajaan BOWONTEHU, wilayah Kekuasaannya mulai dari Pulau-pulau di Sangihe, Pesisir Pantai Minahasa, Bolaang-Mongondow hingga Teluk Tomini di Toli-Toli Sulawesi Tengah.

    Oleh sebab itu, kenapa bukan Nama WENANG atau PONGIDON (PONDOL) yang menjadi Nama dari Ibu Kota Sulawesi Utara.. lalu kenapa para Dotu-Dotu Bantik dan Tombulu tidak pernah Protes saat Nama MANADO digunakan sebagai Nama Ibu Kota Prop. Sulawesi Utara??

    Sebab Nama MANADO bukan hanya sekedar Nama tetapi itu mengandung makna Teritorial/Kekuasaan dari Kerajaan BOWONTEHU yang berada di Pulau MANADO TUA yang wilayah Kekuasaannya mulai dari Pulau-pulau di Sangihe, Pesisir Pantai Minahasa, Bolaang-Mongondow hingga Teluk Tomini di Toli-Toli Sulawesi Tengah. (Pusat Pemerintahan Purba/Tradisional Manado bukan ada di Daratan tetapi ada di Pulau).

    7. Nama MANADO;

    Benarkah dari jendela Etimologi (Asal-usul Kata) bahwa istilah Nama MANADO adalah bentukan kata dasar bahasa Tombulu yaitu ARUR lalu menjadi WINAROR, lalu mengalami fase berbagai perubahan ucap hingga sampai pada kata MANAROU atau MANADOU yang kemudian menjadi MANADO?

    Atau dari bentukan kata bahasa Tontemboan yang membentuk kata MANAROW? atau adakah hubungan antara istilah (kata) nama MANADO dengan MAADON, nama suatu tempat di wilayah Minahasa Utara dan kini hanya menjadi sejarah yang merana karena lebih banyak dikisahkan dari mulut ke mulut?

    Dapatkah kita menerima keterangan Godee Molsbergen bahwa nama Pulau MANADO TUA mulanya disebut MANAROW (Suku Tontemboan) yang berarti sesuatu yang terletak di seberang; yaitu Pulau Batu atau Pulau Gunung.

    Atau Komentar dari Dr. GSSJ Ratulangi dalam Majalah INDIE 1917 yang diberi Judul “DE OORSPRONG VAN DEN NAAM MENADO”, dimana dalam Majalah tersebut Dr. GSSJ Ratulangie menyebut bahwa Nama MANADO berasal dari Bahasa Jepang yaitu “MINATO”?

    Bagi Orang Minahasa, seputaran Nama MANADO punya banyak versi, jadi ita kembalikan saja kepada Suku/Orang atau Penduduk dari Pakasaan/Balok-Walak/Distrik MANADO yang tersebar di wilayah Calaca, Pondol, Makeret, Tokambena, Kampung Kodo dan Komo disebelah Selatan dan diutara yaitu Sindulang I-II, Bitung Karang Ria, Maasing, Tumumpa, Cempaka, Batu Saiki, Tongkaina serta Pulau Manado Tua, Bunaken, Siladen, Mantehage, Nain, Bangka, Talise dan ada juga kampung orang asing yaitu kampung Ternate dan Bajo.. sebagai “KLEIJNE MANADOSE GEMEENTE = Penghuni Kota Manado mula-mula” atau WARGA MANADO dari Suku/Etnis BORGO-BOBENTEHU dimana:

    Kata “WARGA” dalam Bahasa Portugis adalah “MORADORES”..

    Dalam Dialek Spanyol menyebut MANADOS..

    Yang oleh Nicolas Graafland asal Belanda kemudian menyebut MANADOREZEN.

    Yang oleh Penduduk Lokal kemudian disebut MANADO.

    • Manado bukan Minahasa,(sejarah Minahasa-Kontrak 19 Januari 1679 hal 61). Minahasa itu Malesung, disebut oleh orang Sangir Tau Kaporo (orang yang hidup digunung), sehingga sekarang ini orang Minahasa disebut orang gunung. Manarauw adalah wilayah toritorial dari kerajaan Sangihe-Talaud yang terjauh, hingga kini etnis Sangihe Talaud menyebut Manado adalah Manarauw. Wilayah kerajaan Manarouw sesuai memori Padtbrugge disebut menurut nama asalnya meliputi : P. Manarauw(Manado Tua), P. Siladeng, P. Bunaken, P. Mantehage, P. Nain, P. Talise, P. Gangga, P. Bangka dan P. Lembeh serta daerah pesisir pulau Sulawesi.

      ***[Sumber tulisan: Buku karya Shinzo Hayase, Domingo M. Non, dan Alex J. Ulaen yang berjudul “SILSILAS/TARSILAS (GENEALOGIES) AND HISTORICAL NARRATIVES IN SARANGGANI BAY AND DAVAO GULF REGIONS, SOUTH MINDANAO, PHILIPPINES, AND SANGIHE-TALAUD ISLANDS, NORTH SULAWESI, INDONESIA” halaman 251-252]. Hingga kini lokasi-lokasi tersebut masih ditempati oleh suku Sangihe Talaud dan Sitaro.

      Kerajaan Manarouw merupakan pembentukan oleh Gubernur VOC Maluku, Robertus Padtbrugge ketika berada di Manarow (Gahenang/Wenang/Manado tahun 1677), memindahkan ke Singkil 54 orang dari (pulau Manarouw Manado Tua).
      Penduduk/Rakyat kerajaan Manarow adalah orang Sangir-Talaud, sesuai catatan Gubernur VOC Maluku, Robertus Padtbrugge ketika berada di Manado tahun 1677 mengatakan bahwa orang Sangir Tualah adalah penduduk pribumi yang pertama di Manado, yakni sekitar tahun 1332.

      Perdagangan dengan VOC di Sulawesi Utara ditandatangani di Manado oleh Raja Siau (ada di Arsip Sulut). Wilayah-wilayah khususnya Manado dan sekitarnya terakhir di serahkan oleh Raja Siau ke XVII bernama A.J.Mohede pada tahun 1908-1912 kepada asisten residen. Wilayah ini terpisah dari sejarah orang Sangir-Talaud oleh karena penjajah Belanda dan setelah Pada tahun 1951 dimana Manado menjadi Daerah Bagian Kota dari Minahasa sesuai Surat Keputusan Gubernur Sulawesi tanggal 3 Mei 1951 Nomor 223, tapi hingga kini penduduk terbanyak di Kota Manado berasal dari Etnis Sangihe Talaud.

  4. saya masih bingung ada atau tidak mengenai kerajaan di Manado Tua atau di seputaran manado……belum ada bukti yang real ? paling tidak ada bekas istana sebagai pusat pemerintahan, panglima dan prajurit……

    • Manado bukan Minahasa,(sejarah Minahasa-Kontrak 19 Januari 1679 hal 61). Minahasa itu Malesung, disebut oleh orang Sangir Tau Kaporo (orang yang hidup digunung), sehingga sekarang ini orang Minahasa disebut orang gunung. Manarauw adalah wilayah toritorial dari kerajaan Sangihe-Talaud yang terjauh, hingga kini etnis Sangihe Talaud menyebut Manado adalah Manarauw. Wilayah kerajaan Manarouw sesuai memori Padtbrugge disebut menurut nama asalnya meliputi : P. Manarauw(Manado Tua), P. Siladeng, P. Bunaken, P. Mantehage, P. Nain, P. Talise, P. Gangga, P. Bangka dan P. Lembeh serta daerah pesisir pulau Sulawesi.

      ***[Sumber tulisan: Buku karya Shinzo Hayase, Domingo M. Non, dan Alex J. Ulaen yang berjudul “SILSILAS/TARSILAS (GENEALOGIES) AND HISTORICAL NARRATIVES IN SARANGGANI BAY AND DAVAO GULF REGIONS, SOUTH MINDANAO, PHILIPPINES, AND SANGIHE-TALAUD ISLANDS, NORTH SULAWESI, INDONESIA” halaman 251-252]. Hingga kini lokasi-lokasi tersebut masih ditempati oleh suku Sangihe Talaud dan Sitaro.

      Kerajaan Manarouw merupakan pembentukan oleh Gubernur VOC Maluku, Robertus Padtbrugge ketika berada di Manarow (Gahenang/Wenang/Manado tahun 1677), memindahkan ke Singkil 54 orang dari (pulau Manarouw Manado Tua).
      Penduduk/Rakyat kerajaan Manarow adalah orang Sangir-Talaud, sesuai catatan Gubernur VOC Maluku, Robertus Padtbrugge ketika berada di Manado tahun 1677 mengatakan bahwa orang Sangir Tualah adalah penduduk pribumi yang pertama di Manado, yakni sekitar tahun 1332.

      Perdagangan dengan VOC di Sulawesi Utara ditandatangani di Manado oleh Raja Siau (ada di Arsip Sulut). Wilayah-wilayah khususnya Manado dan sekitarnya terakhir di serahkan oleh Raja Siau ke XVII bernama A.J.Mohede pada tahun 1908-1912 kepada asisten residen. Wilayah ini terpisah dari sejarah orang Sangir-Talaud oleh karena penjajah Belanda dan setelah Pada tahun 1951 dimana Manado menjadi Daerah Bagian Kota dari Minahasa sesuai Surat Keputusan Gubernur Sulawesi tanggal 3 Mei 1951 Nomor 223, tapi hingga kini penduduk terbanyak di Kota Manado berasal dari Etnis Sangihe Talaud.

  5. Terima kasih atas kritik dan koreksi anda. Namun untuk sementara Saya tetap pakai tulisan ini untuk mempromosikan Pariwisata Kota Manado.

  6. John Lumi, ada dimana bukti pertama ad. catatan sejarah yg ditulis oleh:

    1. Pendeta Valentijin pada tahun 1724 dlm buku yg berjudul Beschrijving der Moluccas,

    2. Nicolas Grafland yg bertugas sebagai Penginjil di Tanawangko pada tanggal 5 Juli 1867 menulis dalam buku yg berjudul “De Manadorezen”.

    3. Tulisan dari J.S. Wigboldus, Archipel 1987 “A History of the Minahasa 1615 – 1680”

    4. Tulisan dari Sejarawan Lokal seperti Bert Supit, H. Taulu dan Wenas.

    5. Silahkan pergi ke Puncak Pulau Manado Tua, disana ada 3 Kuburan Raja yaitu Raja Mokodokek, Wulangkalangi dan Raja Kokodompis.

    6. Silahkan pergi ke Pulau Manado Tua, disana ada tempat bernama Apeng Datu (Pantai Raja) yg merupakan eks Istana Raja Manakalangi dan Apeng Gugu (pantai istana wakil raja).

    7. Baptisan Iman Kristen pertama di Sulawesi Utara terjadi di Muara Kuala Jengki, dan orang-orang yg menerima Baptisan pada Tahun 1563 itu adalah Keturunan dari Kolano Lumentut yg mendirikan Daseng Nelayan disitu pada akhir tahun 1.300 kemudian menjadi kampung yg bernama Sindulang.

    8. Kutipan dalam Tulisan dari J.S. Wigboldus, Archipel 1987 “A History of the Minahasa 1615 – 1680” :

    Until the early 16th century, the small islands lying off the northwest coast of the Minahasan mainland were in habited by the Babontehu people. Perhaps during and after the last quarter of the 15th century, when people of Ternate (a rather small island, about 250 Km to the east-southeast of the Minahasa and lying off Halmahera’s west coast) began to embrace Islam, the Babontehu people come into regular contact with the broader world. Their rather dense population was fairly sophisticated, had a Monarchial form of Government and had better communication with the outside world than the Neighbouring mainland did.

    Terjemahan,:
    Sampai awal abad ke-16, pulau-pulau kecil yang terletak berada di lepas pantai barat laut dari daratan Minahasa di dihuni oleh orang-orang Babontehu. Mungkin selama dan setelah kuartal terakhir abad ke-15, ketika orang-orang dari Ternate (sebuah pulau agak kecil, sekitar 250 Km di sebelah timur-tenggara dari Minahasa dan terletak di pantai barat Halmahera) mulai memeluk Islam, orang-orang Babontehu datang teratur kontak dengan dunia yang lebih luas. Populasi mereka agak cukup padat, memiliki bentuk Pemerintahan Monarkhi dan memiliki komunikasi yang lebih baik dengan dunia luar daripada di lakukan tetangga didaratan.

    The Babontehu men were bold and feared sea pirates, operating from Manado Tua, they had friendly relations with the people of Ternate and exacted tribute from people as far as up the area of the Tomini Gulf (Between North and Middle Sulawesi).

    Terjemahan,
    Para pria Babontehu yang berani dan yang ditakuti Perompak Laut, beroperasi dari Manado Tua, mereka memiliki hubungan persahabatan dengan masyarakat Ternate dan memeras upeti dari orang-orang sejauh sampai wilayah Teluk Tomini (antara Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah).

    Orang-orang inilah yg mula-mula menggunakan Bahasa Manado Melayu yg diperoleh dari Ternate dan digunakan sebagai Bahasa Percakapan sehari-hari di Manado kemudian dan mereka juga yg pertama membentuk Komunitas Borgo di Manado.

  7. Aso dan John Lumi, kayaknya tidak mengerti. Berkomentar tapi ngak tepat dengan maksud penulis. Heheheheheheee….

    • Manado bukan Minahasa,(sejarah Minahasa-Kontrak 19 Januari 1679 hal 61). Minahasa itu Malesung, disebut oleh orang Sangir Tau Kaporo (orang yang hidup digunung), sehingga sekarang ini orang Minahasa disebut orang gunung. Manarauw adalah wilayah toritorial dari kerajaan Sangihe-Talaud yang terjauh, hingga kini etnis Sangihe Talaud menyebut Manado adalah Manarauw. Wilayah kerajaan Manarouw sesuai memori Padtbrugge disebut menurut nama asalnya meliputi : P. Manarauw(Manado Tua), P. Siladeng, P. Bunaken, P. Mantehage, P. Nain, P. Talise, P. Gangga, P. Bangka dan P. Lembeh serta daerah pesisir pulau Sulawesi.

      ***[Sumber tulisan: Buku karya Shinzo Hayase, Domingo M. Non, dan Alex J. Ulaen yang berjudul “SILSILAS/TARSILAS (GENEALOGIES) AND HISTORICAL NARRATIVES IN SARANGGANI BAY AND DAVAO GULF REGIONS, SOUTH MINDANAO, PHILIPPINES, AND SANGIHE-TALAUD ISLANDS, NORTH SULAWESI, INDONESIA” halaman 251-252]. Hingga kini lokasi-lokasi tersebut masih ditempati oleh suku Sangihe Talaud dan Sitaro.

      Kerajaan Manarouw merupakan pembentukan oleh Gubernur VOC Maluku, Robertus Padtbrugge ketika berada di Manarow (Gahenang/Wenang/Manado tahun 1677), memindahkan ke Singkil 54 orang dari (pulau Manarouw Manado Tua).
      Penduduk/Rakyat kerajaan Manarow adalah orang Sangir-Talaud, sesuai catatan Gubernur VOC Maluku, Robertus Padtbrugge ketika berada di Manado tahun 1677 mengatakan bahwa orang Sangir Tualah adalah penduduk pribumi yang pertama di Manado, yakni sekitar tahun 1332.

      Perdagangan dengan VOC di Sulawesi Utara ditandatangani di Manado oleh Raja Siau (ada di Arsip Sulut). Wilayah-wilayah khususnya Manado dan sekitarnya terakhir di serahkan oleh Raja Siau ke XVII bernama A.J.Mohede pada tahun 1908-1912 kepada asisten residen. Wilayah ini terpisah dari sejarah orang Sangir-Talaud oleh karena penjajah Belanda dan setelah Pada tahun 1951 dimana Manado menjadi Daerah Bagian Kota dari Minahasa sesuai Surat Keputusan Gubernur Sulawesi tanggal 3 Mei 1951 Nomor 223, tapi hingga kini penduduk terbanyak di Kota Manado berasal dari Etnis Sangihe Talaud.

  8. saya memang belom mengerti sejarah itu meski orang minahasa asli, makanya belajar hehehehehheh, disini boleh berargue yg positive supaya kita mendapat informasi yang benar dan tepat……..tapi tolong Jantan dan Ksatria jangan pake inisial aja…….karena saya sungkan bicara dengan Orang goblok…….. I ya yat u sahanti……..

    • Manado bukan Minahasa,(sejarah Minahasa-Kontrak 19 Januari 1679 hal 61). Minahasa itu Malesung, disebut oleh orang Sangir Tau Kaporo (orang yang hidup digunung), sehingga sekarang ini orang Minahasa disebut orang gunung. Manarauw adalah wilayah toritorial dari kerajaan Sangihe-Talaud yang terjauh, hingga kini etnis Sangihe Talaud menyebut Manado adalah Manarauw. Wilayah kerajaan Manarouw sesuai memori Padtbrugge disebut menurut nama asalnya meliputi : P. Manarauw(Manado Tua), P. Siladeng, P. Bunaken, P. Mantehage, P. Nain, P. Talise, P. Gangga, P. Bangka dan P. Lembeh serta daerah pesisir pulau Sulawesi.

      ***[Sumber tulisan: Buku karya Shinzo Hayase, Domingo M. Non, dan Alex J. Ulaen yang berjudul “SILSILAS/TARSILAS (GENEALOGIES) AND HISTORICAL NARRATIVES IN SARANGGANI BAY AND DAVAO GULF REGIONS, SOUTH MINDANAO, PHILIPPINES, AND SANGIHE-TALAUD ISLANDS, NORTH SULAWESI, INDONESIA” halaman 251-252]. Hingga kini lokasi-lokasi tersebut masih ditempati oleh suku Sangihe Talaud dan Sitaro.

      Kerajaan Manarouw merupakan pembentukan oleh Gubernur VOC Maluku, Robertus Padtbrugge ketika berada di Manarow (Gahenang/Wenang/Manado tahun 1677), memindahkan ke Singkil 54 orang dari (pulau Manarouw Manado Tua).
      Penduduk/Rakyat kerajaan Manarow adalah orang Sangir-Talaud, sesuai catatan Gubernur VOC Maluku, Robertus Padtbrugge ketika berada di Manado tahun 1677 mengatakan bahwa orang Sangir Tualah adalah penduduk pribumi yang pertama di Manado, yakni sekitar tahun 1332.

      Perdagangan dengan VOC di Sulawesi Utara ditandatangani di Manado oleh Raja Siau (ada di Arsip Sulut). Wilayah-wilayah khususnya Manado dan sekitarnya terakhir di serahkan oleh Raja Siau ke XVII bernama A.J.Mohede pada tahun 1908-1912 kepada asisten residen. Wilayah ini terpisah dari sejarah orang Sangir-Talaud oleh karena penjajah Belanda dan setelah Pada tahun 1951 dimana Manado menjadi Daerah Bagian Kota dari Minahasa sesuai Surat Keputusan Gubernur Sulawesi tanggal 3 Mei 1951 Nomor 223, tapi hingga kini penduduk terbanyak di Kota Manado berasal dari Etnis Sangihe Talaud.

  9. Pada tahun 1615 Raja Manado – Babontehu (lihat Frans Sumampow Watuseke Sejarawan Minahasa. Penulis beberapa buku sejarah Minahasa, 1962) mengundang Panglima Lucas De Vergara untuk berkunjung ke Manado. Yang diutus adalah dua orang Pater bernama Sciallamonte dan Cosmas Pintto. Seperti juga bangsa Portugis yang lebih awal mengunjungi Tanah Minahasa, demikian juga bangsa Spanyol, tujuan utamanya adalah menyebarkan agama Kristen-Katolik, dan dibarengi dengan tujuan perdagangan, mengingat hasil bumi di Tanah Minahasa kaya dengan rempah-rempah yang akan dijadikan komoditas perdagangan.

  10. untuk buku sejarah manado tua ada atau tidak?? dan penulisnya siapa?? Trims

  11. amat terkenang waktu aku kerja di dinas pasar atas tondano.waktu itu kepala dinasnya bpk tirayoh

  12. dulu waktu itu aku ikut paman masih menjabat danramil tondano -minahasa sul ut.aku masih mencari saudaraku waktu itu alumni smkn 3 tondano thn nya aku sdh lupa dan lulusanya aku juga lupa.skr aku kerja di pemkot kota surabaya sampai skr.nama saudaraku nurul hasanah ibu asli madura bpk asli jawa tondano.dulu aku kos dirumah p.bentong.yg nikah sama orang asli tondano marga sakul.tlng aku di bantu

  13. Bisa tidak sejarah Manado ini diajarkan di sekolah-sekolah supaya anak cucu nanti tidak kehilangan sejarah. I Love Manado

  14. Manado bukan Minahasa,(sejarah Minahasa-Kontrak 19 Januari 1679 hal 61). Minahasa itu Malesung, disebut oleh orang Sangir Tau Kaporo (orang yang hidup digunung), sehingga sekarang ini orang Minahasa disebut orang gunung. Manarauw adalah wilayah toritorial dari kerajaan Sangihe-Talaud yang terjauh, hingga kini etnis Sangihe Talaud menyebut Manado adalah Manarauw. Wilayah kerajaan Manarouw sesuai memori Padtbrugge disebut menurut nama asalnya meliputi : P. Manarauw(Manado Tua), P. Siladeng, P. Bunaken, P. Mantehage, P. Nain, P. Talise, P. Gangga, P. Bangka dan P. Lembeh serta daerah pesisir pulau Sulawesi.

    ***[Sumber tulisan: Buku karya Shinzo Hayase, Domingo M. Non, dan Alex J. Ulaen yang berjudul “SILSILAS/TARSILAS (GENEALOGIES) AND HISTORICAL NARRATIVES IN SARANGGANI BAY AND DAVAO GULF REGIONS, SOUTH MINDANAO, PHILIPPINES, AND SANGIHE-TALAUD ISLANDS, NORTH SULAWESI, INDONESIA” halaman 251-252]. Hingga kini lokasi-lokasi tersebut masih ditempati oleh suku Sangihe Talaud dan Sitaro.

    Kerajaan Manarouw merupakan pembentukan oleh Gubernur VOC Maluku, Robertus Padtbrugge ketika berada di Manarow (Gahenang/Wenang/Manado tahun 1677), memindahkan ke Singkil 54 orang dari (pulau Manarouw Manado Tua).
    Penduduk/Rakyat kerajaan Manarow adalah orang Sangir-Talaud, sesuai catatan Gubernur VOC Maluku, Robertus Padtbrugge ketika berada di Manado tahun 1677 mengatakan bahwa orang Sangir Tualah adalah penduduk pribumi yang pertama di Manado, yakni sekitar tahun 1332.

    Perdagangan dengan VOC di Sulawesi Utara ditandatangani di Manado oleh Raja Siau (ada di Arsip Sulut). Wilayah-wilayah khususnya Manado dan sekitarnya terakhir di serahkan oleh Raja Siau ke XVII bernama A.J.Mohede pada tahun 1908-1912 kepada asisten residen. Wilayah ini terpisah dari sejarah orang Sangir-Talaud oleh karena penjajah Belanda dan setelah Pada tahun 1951 dimana Manado menjadi Daerah Bagian Kota dari Minahasa sesuai Surat Keputusan Gubernur Sulawesi tanggal 3 Mei 1951 Nomor 223, tapi hingga kini penduduk terbanyak di Kota Manado berasal dari Etnis Sangihe Talaud.

  15. Nama-nama tempat di manado

    Bowontehu berasal dari bahasa Sangir Bowong dan Kehu Bowong artinya atas dan kehu artinya hutan Jadi kerajaan Bowontehu artinya kerajaan yang terletak diatas hutan (Molibagu),Manarauw (Manado Tua)berasal dari bahasa sangir yaitu Marau artinya jauh. Kerajaan Manarauw artinya kerajaan terjauh dari kerajaan-kerajaan Sangihe. Pada Tahun 1623 dipintakan ke Gahenang/Mahenang artinya api yang menyala/bercahaya/api unggun/obor/suluh,kemudian berubah Wenang artinya sarung pedang oleh Blanda disebut Manarauw disebut Manado dan Wenang disebut Benang. Nama pulau-pulau di teluk Manado semua dalam bahasa Sangir yaitu :
    BUNAKEN artinya Tempat Tiba, asal dari kata Buna/Wuna diberi akhiran W/Bunakeng artinya tiba ditempat tujuan,
    SILADEN asal dari dasar Silade artinya kandas Siladeng artinya tempat terkandas , TALISE asal kata (Sarise)sejenis pohon dalam bahasa manado disebut Nusu, MANTEHAGE dahulu bernama MANTERAWU (bahasa Sangir Purba) artinya Matang Garra (Bahasa sangir Modern). Manterawu dalam bahasa Sangir Purba artinya mata gergaji. Sebutan ini datang karena daratan tertinggi pulau ini hanya sekitar 15 meter. Jika dilihat dari jauh, rentetan pohon bakau yang tumbuh di pesisir pulau ini nampak seperti mata gergaji.
    MANTEHAGE berasal dari bahasa Sangir yaitu MangketeKehage (mangkete=tetap,tidak berubah, stabil, Biasa-biasa dialeg Manado.Kehage arinya tahan,kuat,teguh, Gigih, Ulet dalam mempertahankan (pendirian) sehingga arti lainnnya disayangi, karena keuletan dan kegigihan dalam berbagai aspek kehidupan (suka maupun duka. Hal ini diambil dari perasaan penduduk yang mendiami pulau ini.
    GANGGA berasal dari bahasa Sangir yakni Genggang artinya merasa takut, kuatir
    BANGKA adalah berasal dari bahasa sangir (Purba) yaitu nama salasatu jenis perahu karena etnis Sangir Talaud memiliki 24 jenis perahu.

    1. TUMUMPA = berasal dari bahasa Sangir Tumumpa artinya Turun Sambil melompat. Dalam bahasa Purba yaitu Ta-tumpa-eng/ng artinya tempat turun dari kata dasar Tumpa artinya turun,tuang,lompat ; Tu= awalan berati kata penunjuk atau tau artinya orang/manusia, sehingga huruf T menjadi luluh mumpa = mu’tumpa dialek Sitaro artinya mau turun. Jadi kata Tumpa dalam bahasa sangir bila dibubuhi awalan, sisipan dan akhir artinya akan berubah sangat jelas mis : Ta-Tumpa dalam bahasa sangir artinya tempat SARANA atau ALAT untuk turun/tuang/lompat; Natumpa artinya terbuang (tidak disengaja), penanumpangeng artinya tempat menginap; Nenumpang/nanumpang maknanya ada manumpang bahasa Manado; Tatumpangang/Tatumpangeng maknanya sarana alat untuk menuju tempat turun/menginap; Nitumpa artinya dituang/diturunkan (dengan sengaja); Timumpa turun dengan melompat tanpa perintah atau dipaksa berdasarkan keinginan sendiri; dsb. Jajadi Tumumpa berarti tempat orang yang turun sambil melompat.
    2. TUMINTING = berlari cepat atau Tu = Tau artinya orang/manusia miting kata dasar miti(ng) artinya pana/jubi kata ini di tambakan awalan serta akhiran maknanya akan berubah mis. papiti,piti,nemiti,nipiti,nupiti,papiti’I, Tumiti(ng) berarti lari cepat bagaikan anak panah; Nama Burung.
    3. MAASING asal kata asing artinya garam ditambah awalan ma artinya sangat/banyak, jadi maasing artinya= sangat asin(rasa) atau bagaram malayu manado
    4. SINDULANG = berasal dari kata sindo artinya hidup/bernafas atau sindu artinya bernafas dengan tersengat-sengat (sindokang)hosa atau baadu dalam dialek manado juga Sindulang bisa bertaruh: Tempat, mana menggerutu, gumam sedang (yaitu di pemakaman sindulë.(isak tangis (teriak), ditempat perkuburan.
    5. SINGKIL = asal dari kata Singkile dalam dialeg sangir ada huruf r dibawah huruf L artinya menyingkir/Pindah=Sorong dialeg Manado
    6. PONDOL = berasal dari kata Pondole artinya ujung
    7. WAWONASA = Wowong artinya atas dan Wawo dekat/rendah/tofor Nasa = masak
    8. KARAME = jenis makanan etnis sangir (Kuno) dalam keadaan musim kelaparan berasal dari kelapa muda Lewo atau kembare {jenis kematangan kelapa ; bungang, bura (keluar dari seludang), Karokong,kahungku, puringka,Lewo, Kembare, Marabe, wango/bango, bango/wango mahegu} yang dimasak diberi bumbu dimakan pada tempurung kelapa muda tersebut, Boko = kelapa yang tidak berisi
    9. TUNA = Bahasa Sangir Tuna artinya cengeng
    10. DENDENGAN = Dendengang artinya merasa was-was, gegawang, takut.(parigi Putri)= Dendengan Dalam, Dendengan Luar (Kampung Kanari=banyak ditumbuhi pohon kenari dihuni oleh Org. Minut Thn. 1957). Versi lain mengatakan dulu Kampung Dendengan penjual Dendeng. saya tidak sempat mengetahuinya, yang saya ketahui kami orang Dendengan Dalam adaalah penjual Bara Tempurung. Sehingga ada syair lagu ” Orang dendengan jual bara janda laku baku gara”, juga penjual daun-daunan ( Tagalolo, bete,pisang,bulu), serta Jasi jaha(ibu kami Tanta Ade atau Adel).
    11. TIKALA = berasal dari bahasa Sangir yakni TIKI-KELA jawaban dari teka teki Tika-lai Terkahlah (Tiki-Kela)= lagi tidur tapi matanya terbuka, ketika beberapa orang sedang jalan menuju ke arah teman mereka berada pada sebuah pohon yang rimbun dan dibawah ada sebuah batu besar ternyata teman mereka sedang tidur tetapi matanya terbuka dalam bahasa Sangir disebut Tiki-Kela, sehingga tempat tersebut dinamakan Tikala.
    12. KUMARAKA =kumahaka berasal dari kata Kuma dan Haka atau saka Kuma atau kumang = makan haka = rumbuh atau roboh Saka= mendaki
    13. PINAESAAN, berasal dari kata pina(bahasa kuno artinya jadi atau berlaku, terjadi atau keadaan sudah berlangsung(past present tense)=(waktu/tempo) dan Sesa =sendiri atau satu merujuk pada orang, Esa
    14. TELING = Teleng artinya terkenal atau terlihat jelas
    15. KUHUN = dalam bahasa Sangir kuhung artinya tulang betis atau pakaian
    16. MAKERET = Makere (gerakan mata) berkedip-kedip
    17. LAWANGIRUNG = terdiri dari kata Lau artinya campur ; wang= Wangi (aroma) Lawang artinya Mempunyai /memiliki; Irung artinya hidung = makluk halus yang berbau wangi,bertubuh keci,memiliki hidung pesek dengan pinciuman tajam.
    18. WANEA = Paneha/ Banea atau Waneha = burung yang berbunyi dimalam hari (burung Hantu)
    19. BAHU = Wahu/Bahu = nama sebuah pohon.
    20. KLEAK = nama burung berasal dari bahasa sangir Karea = tempat ditemukan/dapat burung
    21. KOMO = asal kata komore = tempat berkumpul
    22. KAIRAGI/Kayuragi berasal dari kata Kalu dan hagi; kalu artinya kayu dan hagi artinya bermacam-macam
    23. SARIO = tempat ditahannya Raja Talaud (Beo) Sario Tamawiwi.
    24. PAKOWA, nama pohon Pakowa = banyak ditumbuhi pohon pakoba.
    25. TINGKULU, asal dari kata dasar Kulu artinya Dukung (bahasa Manado), jadi Tingkulu berarti baku dukung
    26. KOKA, nama sejenis pohon yang buahnya mirip dengan amu(Kulu bahasa sangir=bentuk bulat) tapi Koka bentuk agak lonjong enak dibuat sayur. Dahulu buah ini menjadi rebutan sengga orang berkelahi untuk merebut buah ini sehingga dalam bahasa sangir disebut KOKA artinya Berkelahi/Baku pukul.
    27. RANOMUUT berasal dari kata Rano=air tergenang dan Lumu; Ranomuut air yang berlumut.
    28. LIWAS = nama jenis pohon jeruk dalam bahasa sangir disebut Liwase.
    29. TAAS = banyak ditumbuhi jenis kayu yang tegak lurus untuk dibuat perahu, juga berasal dari kata Taha diberi akhiran menjadi Tahase artinya potong-potong sesuai bentuk dan ukuran.
    30. KAROMBASAN berasal dari kata Karomba yaitu jenis anyaman dari pelepah pinang untuk di jadikan semacam bakul guna mengisi berupa hasil tanaman lalu dipikul dengan memakai usungan. juga berarti gerakan menggaruk akibat kepanasan disebabkan terkena sesuai yang gatal dan terasa panas.
    31. RANOTANA, asal kata Rano dan Tana, Rano artinya air dan Tana artinya tinggal, diam. Jadi Ranotana artinya tempat Air Tergenang.
    32. M/WINUANGAN = bahasa sangir Winuangang/Binuangang = Hutan Belantara.
    33.WINANGUN = Winalangeng/Winangaeng/Binalangeng = langit biru /angkasa= diatas langit
    34. TITIWUNGAN, berasal dari kata Tiwungang asal kata dasar Tiwu menjadi tiwua artinya tempat mandi pantai (Liwua),juga berarti berasab-asab/berapi-api atau secara bersama-sama melalukan/keroyak (tempat pemujaan kepada Genggong nalangi Duatang Saruruhang, Aditinggi, dan Mawendo, dengan mengumpulkan daun-daunan, bunga,buah dan akar pohon yang harum kemudian dibakar dengan asab naik ke langit= metipu) Tipune Timopang ambore, TiTiwungang atau berarti tempat melakukan sesuatu secara bersama-sama atau menyerang/menyeroyok dari segala arah.

    Bahasa Manado, awal mula hanya digunakan dalam berniaga(sehingga dikenal dengan Istilah Malayu Pasar) untuk berkumunikasi dengan pendatang-pendang dari berbagai daerah di Indonesia yaitu Cina Arab, India/Bombai, Ternate, Banjar,Palembang Aceh, Makasar, Jawa, Bugis, Toraja, sehingga teradopsi hingga menjadi Bahasa Malayu Manado atau Malayu Pasar. Berbicara dalam bahasa Malayu disebut oleh etnis sangir dengan metatigihe (Tatinggihe=Malayu Pasar/Manado.

    Maka muncul istilah nama-nama kapong yang baru, antara lain : Kampung Islam,Arab, Cina, Ternate, Banjer (Banjar),Bugis, Kampung Merdeka pindahan dari Pondol/Belakang Benteng.Kampong kodo, kampung Tubu, Kampung Ketang, dsb.

    Sumber: akang inu

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda Disini :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s